Ananta vs NTE (Neverness to Everness): Sama-Sama “GTA Anime”, Bedanya di Mana?
ngabquest — Ananta vs NTE alias Neverness to Everness — ini salah satu perdebatan paling rame di kalangan penikmat game open-world anime style. Wajar sih: dua-duanya sama-sama dari China, sama-sama ngasih kota modern buat dijelajahi, sama-sama punya karakter gaya anime yang bikin timeline heboh sejak diumumkan. Sekilas? Kembar identik. Makanya orang-orang nggak berhenti bandinginnya.
Tapi begitu digali lebih dalam — dan NgabQuest udah ngebedah ini satu per satu — ternyata dua game ini beda jauh, hampir di semua lini yang penting. Dari engine, dunia, combat, cara gerak, sampai yang paling sensitif buat dompet kita semua: gacha. Yuk kita bongkar satu-satu.
Catatan kecil sebelum mulai: semua perbandingan ini berdasarkan informasi dan materi yang udah dirilis kedua game sejauh ini, ya. Oke, gas.
Kenalan Dulu Sama Dua Jagoan Ini
Ananta adalah game perdana dari Naked Rain, studio di bawah payung NetEase. Kalau namanya kedengeran asing, mungkin kamu lebih kenal nama lamanya: Project Mugen — proyek yang dari awal udah digadang-gadang sebagai “GTA Anime”. Iya, ekspektasinya seliar itu.
Neverness to Everness (mari kita singkat NTE biar nggak keriting) digarap Hotta Studio, bagian dari Perfect World. Nama Hotta harusnya familiar buat kalian: mereka studio di balik Tower of Fantasy. Jadi dua-duanya bukan pemain kemarin sore — beda studio, beda publisher, beda DNA.
Urusan Grafis: Unity 6 vs Unreal Engine 5

Ini plot twist pertama: biarpun tampangnya sekilas mirip, mesin di baliknya beda total. Ananta dibangun pakai Unity 6, dan hasilnya gaya anime yang cerah dengan animasi yang mulusnya bikin heran. Cel-shade-nya cakep, dan transisi pas ganti karakter itu smooth banget — detail kecil yang nunjukin polesan.
NTE? Mereka milih Unreal Engine 5, engine yang dianggap paling modern saat ini. Detailnya tinggi, dunianya imersif, dan transisi dari dunia utama ke dunia “anomaly”-nya seamless banget. Dua pendekatan beda, dua-duanya valid — tinggal kamu tim visual anime cerah atau tim detail maksimal.
Dunianya: New York Masa Depan vs Kota Penuh Anomali

Persamaan keduanya berhenti di konsep dasar: kota modern. Sisanya? Beda arah total.
Ananta ngambil latar kota yang terinspirasi dari New York — iya, kotanya Spider-Man — dengan sentuhan era masa depan. Dunianya relatif “normal”: kota besar, gedung tinggi, kehidupan urban.
NTE mainnya lebih aneh (dalam artian bagus). Kamu nggak cuma keliling kota modern bernama Hethereau; kamu juga bisa nyebrang ke dunia lain yang penuh unsur supernatural, yang tampangnya beda jauh dari kota realistisnya. Buat penulis NgabQuest, dunia ganda ini poin plus-nya NTE — dan honestly, konsep “kota normal yang nyimpen dunia aneh di baliknya” itu emang selalu menarik.
Combat: Rasa GTA vs Rasa Tower of Fantasy

Nah, di sini jurang perbedaannya makin lebar. Combat Ananta itu vibes-nya action single-player banget — bayangin pertarungan ala Batman Arkham, Prototype, Spider-Man, dan GTA jadi satu. Bahkan sistem pemilihan senjatanya pun mirip GTA. Jadi kalau kamu kangen sensasi jadi one-man-army di kota besar, Ananta jelas ngincer kamu.
NTE jalan ke arah sebaliknya: sistemnya serupa Tower of Fantasy, di mana kamu gonta-ganti karakter di tengah pertarungan dan ada skill yang aktif tiap kali switch. Menurut NgabQuest, NTE terasa jauh lebih “RPG” — karakter-karakternya pakai elemen, lengkap dengan progression ala gacha RPG pada umumnya. Sementara Ananta murni nawarin action open-world layaknya GTA. Dua filosofi yang beda dari akarnya.
Traversal: Ayunan Spider-Man vs Sepatu Magnet

Ini bagian favoritku, no cap. Ananta punya mekanik yang nggak dimiliki NTE: karakternya bisa berayun di antara gedung-gedung layaknya Spider-Man. Ditambah pergerakan yang mulus, transisi jalan kaki ke kendaraan yang mulus juga, dan perpindahan kontrol antar karakter yang seamless — sekilas kayak GTA V digabung Marvel’s Spider-Man 2. Dan yakin deh, berayun bakal jadi cara transportasi favorit semua pemainnya nanti.
NTE nggak punya web-swinging, tapi mereka bawa gimmick unik sendiri: karakter bisa jalan di dinding dan atap, kayak pakai sepatu magnet. Terus karena semua karakter di party kamu ada di lokasi yang sama, gonta-ganti karakter bisa langsung tanpa ribet. Aneh? Iya. Keren? Juga iya.
Gacha & Monetisasi: Bagian yang Nentuin Nasib Dompet

Oke, ini dia bagian yang paling krusial. Dua-duanya free-to-play, jadi jelas dua-duanya punya monetisasi. Tapi bentuknya beda banget — dan perbedaan ini bisa jadi faktor penentu kamu main yang mana.
NTE pakai jalur klasik: gacha karakter dengan banner bersistem pity, plus karakter baru di tiap update. Familiar? Ya, ini formula yang udah kita kenal (dan takuti) dari game gacha pada umumnya.
Ananta? Duduk dulu: nggak ada gacha karakter. Semua karakternya bisa dibuka cukup dengan main. Monetisasinya bakal muter di kosmetik karakter. Aku literally shaking pas baca bagian ini — game open-world anime style dari studio besar yang nggak ngunci karakter di balik banner? We are so back, teman-teman.
Jadi, Pilih yang Mana?
Tergantung kamu tipe yang mana. Kalau kamu down bad sama fantasi jadi Spider-Man di kota masa depan, pengen combat action lepas ala GTA, dan udah lelah lahir batin sama gacha — Ananta jelas panggilan jiwamu. Kalau kamu justru nikmatin progression RPG, karakter berelemen, dunia supernatural, dan sensasi deg-degan narik banner — NTE udah nyiapin semua itu.
Penulis NgabQuest sendiri bilang bakal cobain dua-duanya dulu sebelum milih — dan jujur, itu jawaban paling relatable. Toh keduanya gratis; yang kena damage paling cuma memori HP dan jadwal tidur. Perbandingan lengkap versi aslinya bisa kamu baca di NgabQuest. See you di Hethereau — atau sambil gelantungan di gedung New York, tergantung tim mana kamu!
