Game Baru

Review Nighthawks: RPG Vampir Berbasis Teks yang Memikat

Oleh ••7 menit baca

ngabquest — Oke, gue mau jujur dari awal. Sejak Bloodlines 2 bikin kita semua patah hati berjamaah, gue udah nungguin satu game vampir yang beneran ngerti kenapa kita suka jadi makhluk malam. Setelah delapan tahun ngendon di peti mati development (Kickstarter-nya aja udah dari 2018!), Nighthawks akhirnya bangkit. Literally shaking. Game racikan The Curiosity Engine dan Wadjet Eye Games ini rilis 22 September 2026 di PC, dan spoiler dikit buat review Nighthawks ini: we are so back.

Namun, sebelum kalian buru-buru checkout, ada satu hal penting yang wajib dipahami. Nighthawks bukan action RPG 3D dengan grafis kinclong ala game AAA. Ini RPG berbasis teks dengan lebih dari 800 ribu kata. Iya, delapan ratus ribu, bestie. Itu setara beberapa novel vampir tebal yang ditumpuk jadi satu, bedanya kali ini kalian yang pegang kendali atas si vampir galau.

Kalau kalian alergi baca, mungkin game ini bukan jodoh kalian. Sebaliknya, kalau kalian pernah betah berjam-jam di Fallen London, Citizen Sleeper, atau Disco Elysium, siap-siap aja kehilangan jam tidur.

ngabquest ~ Nighthawks Review

Dunia Tanpa Masquerade: Selamat Datang di Cradlebridge

Premis Nighthawks tuh simpel tapi jenius. Enam bulan lalu, karakter kalian mati lalu bangkit sebagai vampir. Masalahnya, timing-nya apes banget, karena dunia udah tahu vampir itu nyata. Nggak ada lagi komunitas rahasia yang sembunyi di balik bayang-bayang. Rahasianya udah bocor, dan sekarang manusia sama vampir harus belajar hidup bareng dengan canggung.

Kalian akhirnya kabur ke Cradlebridge, kota pertama di dunia yang resmi “terintegrasi”. Di sini vampir punya kartu identitas, komite politik sendiri, bahkan klinik yang bagi-bagi darah encer ke warga bertaring. Kedengarannya progresif, kan? Sayangnya, toleransi di atas kertas beda jauh sama kenyataan di jalanan. Separuh warga kota dengan senang hati bakal nancepin pasak ke dada kalian, dan game ini nggak pernah bikin kalian lupa soal itu.

Selain itu, kotanya sendiri punya karakter kuat. Ada Angelbreach yang penuh neon pink dan aura sleazy, Fountaincourt yang sok rapi dan beradab, sampai kawasan Old Town yang kumuh di “sisi rel yang salah”. Menariknya, meski semua orang tahu vampir itu ada, kemampuan supernatural kalian masih jadi misteri buat kebanyakan manusia. Jadi, waktu kalian tiba-tiba berubah jadi asap atau ngobrol sama mayat, reaksi NPC-nya tetap kaget. Detail kecil kayak gini yang bikin dunianya terasa hidup, no cap.

Nightclub, Rat Whisperer, dan Kecanduan Naikin Stat

Dari sisi gameplay, Nighthawks mainnya santai tapi adiktif. Kalian pilih lokasi dari peta kota, masuk ke adegan ala choose-your-own-adventure, lalu ambil keputusan yang diuji lewat stat karakter. Game ini juga transparan soal peluang sukses tiap aksi, jadi kalian tahu risikonya sebelum nekat.

Bagian favorit gue adalah sistem trait yang berkembang lewat kebiasaan. Misalnya, kalau kalian sering lewat gorong-gorong, lama-lama kalian bisa fast travel lewat jaringan got itu. Bahkan ada momen absurd di mana kalian harus jalan telanjang ke bar geng motor sebagai syarat inisiasi. Hasilnya? Trait eksibisionis naik, yang ujungnya bisa nambah stat rayuan sekaligus infamy. Chaotic banget, dan gue suka.

Di awal, kalian nentuin latar belakang, sire, dan cuma satu kekuatan gaib. Pilihannya antara lain Mesmerism buat menghipnotis, Natural Dominion buat ngendaliin hewan kayak tikus, Tenebrous Form buat berubah jadi asap, sampai Corpsetalker buat ngobrol sama jenazah. Oleh karena itu, pilih dengan bijak, karena nyesel di tengah jalan itu nyata banget.

Sementara itu, cerita utamanya bakal bikin kalian jadi bos klub malam bernama Nighthawks setelah pemilik lamanya tewas secara nggak elegan. Ini bukan management sim, tapi keputusan kalian ngaruh ke pemasukan. Makin cuan klubnya, makin gampang beli outfit goth kece. Priorities, obviously.

Companion yang Bikin Gue Down Bad

Kalau ada satu alasan kenapa kalian harus main Nighthawks, jawabannya adalah para companion-nya. Ada sepuluh karakter yang bisa direkrut, dan hampir semuanya punya cerita yang bikin gue susah move on.

Ada Madame Lux, pesulap di klub burlesque saingan yang nyimpan rahasia gelap di balik pesonanya. Lalu ada Maze, pemilik toko buku nyentrik dengan taring berlapis emas dan kacamata lensa merah, yang vibe-nya kayak Tim Curry versi penipu ulung. Jangan pernah percaya sama orang yang kelihatan kayak lagi cosplay Tim Curry, oke? Ada juga Domino, detektif swasta manusia yang reputasinya udah tercoreng, plus Agatha yang punya gelar paling humble sedunia: Empress of the Rats. My beloved.

Siapa yang kalian ajak jalan malam itu juga ngaruh ke opsi roleplay. Maze paham trik-trik licik di seluruh kota, sedangkan darah hangat Domino bisa bantu di situasi yang nggak bisa ditembus makhluk undead. Makin sering diajak, rasa hormat mereka ke kalian makin naik.

Di atas semua itu, voice acting-nya top tier. Bahkan Amelia Tyler, narator Baldur’s Gate 3, ikut ngisi suara Monica Vail yang licik dan mengancam. Satu catatan buat para horndog: meski sempat salah dilabeli Adults Only di Steam (yang akhirnya dianulir Valve), isi game-nya jauh lebih PG-13 dari yang kalian bayangkan.

Side Quest-nya Kayak Antologi Horor

Nah, ini bagian yang bikin gue beneran nggak bisa berhenti main. Side quest di Nighthawks tuh kayak kumpulan cerpen horor yang diselipkan di tengah saga vampir besar. Ada yang lucu, ada yang menyentuh, dan ada yang bikin merinding sampai kebawa mimpi.

Contohnya, kalian bisa jadi hakim dalam sengketa antar tikus yang menguasai taman hiburan terbengkalai. Di lain waktu, kalian malah harus mempelajari kisah hidup vampir tua demi menyiapkan pemakamannya. Ada juga quest boneka rumah-rumahan yang creepy abis, sampai perburuan sire seorang companion yang vibe-nya kayak film Saw. Bahkan kalian bisa nemu sekelompok nerd yang lagi main tabletop RPG bertema vampir di sebuah diner. Roleplay di dalam roleplay. Meta banget.

Selain itu, ada dua meteran yang harus kalian jaga: blood meter dan predator meter. Darah botolan murah cuma bisa meredakan predator meter sebagian, karena naluri berburu itu nggak bisa ditipu. Kalau kalian cuek, siap-siap aja sadar dari kondisi setengah kesurupan dengan taring nancep di leher mayat yang mulai dingin. Game ini nggak malu nunjukin kalau vampir itu, pada dasarnya, monster.

Bagian yang Bikin “It’s So Over”

Oke, sekarang saatnya objektif, karena sebucin apa pun gue, Nighthawks tetap punya kekurangan.

Pertama, combat-nya pasif banget. Sebagian besar pertarungan cuma soal nonton bar vitalitas kalian menetes sambil berdoa menang duluan. Memang ada pertarungan yang lebih kompleks dengan beberapa skill check, tapi tetap nggak se-engaging itu. Untungnya kalian hampir nggak mungkin mati. Kalah cuma bikin kalian kehilangan waktu dan dapat luka (Wounds) yang harus diobati dokter undead langganan.

Kedua, batas waktunya terlalu longgar. Tiap babak ngasih deadline sebulan, dan jujur itu kebanyakan. Parahnya, kalau mau skip ke event tertentu, kalian harus tidur manual hari demi hari sambil ngurus stok darah. Chore banget.

Ketiga, navigasi quest kadang bikin bingung. Semua misi dicatat di smartphone, tapi ada momen di mana progres macet cuma karena kalian belum baca satu email tertentu. Beberapa kritikus juga menilai kualitas vignette-nya naik-turun: ada yang brilian, tapi ada juga yang terasa kurang nendang dan bikin alur terasa terpecah.

Grafis Sederhana, Tapi Siapa Peduli?

Visual Nighthawks memang bukan jualan utamanya, tapi jangan salah, game ini jauh dari jelek. Artwork 2D garapan Ben Chandler (Unavowed, Old Skies) sukses membangun suasana neon kelam dengan cepat. Ditambah musik Thomas Regin, mood-nya langsung dapet.

Pada akhirnya, ini soal prioritas. Daripada ngabisin budget buat tembok bata yang di-render super detail, Nighthawks naruh semua tenaganya di tulisan, karakter, dan akting suara. Toh vampir itu menarik karena mereka ngomong: merayu, berbohong, dan merasionalisasi hal-hal mengerikan.

Jadi, Worth It Nggak?

Buat gue, jawabannya jelas: worth it, asal kalian tipe pembaca. Nighthawks bukan cuma ngasih fantasi jadi predator malam, tapi juga membedah fantasi itu. Game ini ngebiarin kalian menikmati jadi monster penghisap darah, lalu pelan-pelan bikin kalian ngerasa agak jijik sama diri sendiri karena menikmatinya. And honestly? I’m into it.

Replayability-nya juga tinggi. Satu playthrough bisa berakhir dengan jalan pemberontak, sementara run berikutnya kalian bisa ambisius nguasain seluruh kota. Kalau kalian kangen RPG vampir yang punya otak dan hati, Nighthawks adalah jawabannya.

Baca juga