Cara Main (Pemula)

Review Deathloop: Mati Berkali-kali, Tapi Nagih Banget

Oleh ••5 menit baca

ngabquest — Oke, pengakuan dosa dulu. Aku udah mati di Blackreef lebih sering dari yang mau aku akui. Anehnya, tiap kali Colt Vahn kebangun lagi di pantai yang sama, aku malah senyum. Itulah sihir Deathloop, shooter time-loop racikan Arkane Lyon yang rilis September 2021. Sekarang game ini bisa dimainin di PC, PS5, dan Xbox Series X|S. Jadi, di review Deathloop kali ini, aku mau curhat panjang. Mulai dari kenapa aku down bad sama dua karakter utamanya, sampai tips biar kalian nggak nangis di loop pertama.

ngabquest ~ Deathloop Review

Premis: Groundhog Day, Tapi Semua Orang Bawa Pistol

Colt terjebak di pulau Blackreef yang harinya berulang terus. Satu hari dibagi jadi empat waktu: pagi, siang, sore, dan malam. Selain itu, ada empat distrik yang bisa kalian datangi di tiap waktu itu. Setiap keluar dari satu distrik, jam langsung maju satu slot. Kalau Colt mati atau harinya habis, semuanya reset.

Target utamanya jelas: bunuh delapan Visionary dalam satu hari. Masalahnya, mereka jarang nongkrong di tempat yang sama pada jam yang sama. Oleh karena itu, kalian harus nyelidikin rutinitas, rahasia, dan kelemahan tiap target. Untungnya, semua petunjuk itu terbawa ke loop berikutnya. Pada akhirnya, kalian nyusun satu “hari sempurna” buat ngabisin mereka semua sekaligus.

Konsepnya kedengeran kayak tugas kuliah berat. Namun, eksekusinya bikin nagih. Rasanya kayak nyusun heist, cuma bedanya semua anggota tim itu kalian sendiri. It’s so over tiap kali rencana gagal total. Lalu, we are so back pas loop berikutnya jalan mulus.

Colt dan Julianna, My Beloved Toxic Duo

Ngomongin Deathloop tanpa bahas Colt dan Julianna itu dosa besar. Colt pengin keluar dari loop. Sebaliknya, Julianna Blake mati-matian pengin loop-nya tetap jalan. Hasilnya, mereka saling bunuh tiap hari sambil lempar-lemparan hinaan lewat radio.

Dan chemistry-nya? Literally shaking. Dialog mereka lucu, kasar, dan kadang tiba-tiba rapuh banget. Selain itu, akting suara Jason E. Kelley dan Ozioma Akagha bikin tiap obrolan kerasa hidup. Banyak pemain sepakat duo ini termasuk karakter terbaik yang pernah dibikin Arkane. Aku sepenuhnya setuju, no cap.

Satu lagi yang wajib disebut: 2-BIT, komputer nyinyir di markas Charlie Montague. Dia memang cuma NPC sampingan. Akan tetapi, dia salah satu hal paling lucu di seluruh game.

Gunplay yang Bikin Tangan Gatel

Di sinilah Deathloop pamer otot. Tembak-tembakannya kerasa berat, renyah, dan memuaskan. Senjata kadang macet di momen paling apes, dan itu malah bikin tegang. Di PS5, haptic DualSense bikin tiap tarikan pelatuk kerasa di telapak tangan.

Selain senjata, ada Slab alias kekuatan supernatural. Shift buat teleport jarak pendek. Nexus buat ngerantai musuh, jadi satu mati, semua ikut mati. Karnesis buat ngelempar musuh ke udara kayak boneka. Sayangnya, kalian cuma bisa pasang dua Slab sekaligus. Akibatnya, tiap loop terasa kayak milih menu makan siang yang semuanya enak.

Berbeda dari Dishonored, game ini nggak ngehukum kalian karena main brutal. Nggak ada sistem moral sama sekali. Jadi, kalau stealth gagal, keluarin aja senapan mesinnya. Arkane sendiri kayaknya ngedukung energi chaos itu.

Tapi Nggak Semuanya Mulus

Oke, waktunya objektif. Meski awalnya kerasa bebas, jalur cerita Deathloop sebenarnya cukup linear. Pada akhirnya, cuma ada satu urutan yang bener buat ngabisin semua Visionary. Kalau quest marker nyala, game bakal nuntun kalian ke sana pelan-pelan.

Di samping itu, progresnya lumayan grindy. Kalian harus bunuh Visionary yang sama berkali-kali buat dapet upgrade Slab. Lama-lama, level yang awalnya bikin deg-degan jadi rutinitas kerja kantoran. Masuk, bunuh, kabur, ulang.

AI musuh juga kurang pintar. Eternalist sering bengong, dan Julianna versi AI gampang banget dikalahin. Untungnya, mode invasi online nutupin kekurangan itu. Saat Julianna dikendalikan pemain lain, suasananya berubah jadi cat and mouse yang bikin jantung copot. Sayangnya, mode ini kadang diganggu lag dan crash.

Tips Pemula Biar Nggak Stres di Blackreef

Sebelum kalian terjun, ini beberapa tips yang bakal nyelametin banyak nyawa Colt.

Pertama, kejar kemampuan Infuse secepat mungkin. Dengan Infuse, senjata dan Slab bisa dibawa permanen ke loop berikutnya. Bahan bakarnya adalah Residuum, yang didapat dari objek bercahaya dan Visionary yang tewas. Ikuti aja arahan tutorial, karena game bakal nuntun kalian ke sana.

Kedua, atur prioritas Infuse. Dahulukan Slab, lalu senjata emas, kemudian upgrade Slab. Setelah itu, baru trinket karakter, senjata ungu, dan trinket senjata.

Ketiga, buru Shift sedini mungkin. Slab ini dipegang Charlie Montague di Updaam pada siang hari. Markasnya penuh jebakan, jadi bersihin musuh dari luar ke dalam pelan-pelan. Begitu punya Shift, kalian bakal susah ngelepasnya.

Keempat, manfaatin turret. Hackamajig bisa ngeretas turret, lalu turret-nya bisa dilipat dan dibawa kayak koper. Bonusnya, tiap turret punya baterai sendiri. Jadi, kalau ada pintu yang butuh baterai, retas aja turret terdekat.

Kelima, jangan remehin serangan jarak dekat. Machete Colt bisa ngebunuh kebanyakan musuh dalam dua tebasan. Tendangan juga bisa ngelempar musuh dari atap. Sementara itu, slide berguna buat ngehindar peluru sambil mendekat.

Senjata dan Trik yang Wajib Dicoba

Buat senjata, Strelak Verso sering disebut sebagai salah satu yang terbaik. Senjata pink mengilap ini bisa dipakai dual-wield atau digabung jadi SMG. Perk-nya juga bikin musuh melambat saat kena tembak. Kalian bisa nemuin dia di The Complex pada siang hari.

Selain itu, ada Fourpounder unik milik Harriet. Pistol besar ini nyemburin awan gas beracun yang bisa meledak kalau ditembak lagi. Kombinasi itu brutal banget buat ngejebak gerombolan musuh di lorong sempit.

Lalu, soal ngelawan Julianna. Saat dia invasi, jalur keluar kalian bakal dikunci lewat sebuah antena. Karena lokasinya langsung ketahuan, serbu aja secepatnya. Julianna cuma punya satu nyawa, sedangkan Colt punya cadangan lewat Reprise. Kalau mau lebih santai, pindah ke mode offline biar Julianna dikendalikan AI.

Terakhir, coba matiin quest marker. Memang, progresnya bakal jauh lebih lama. Akan tetapi, rasa nemuin rahasia sendiri itu nggak ada tandingannya.

Jadi, Layak Dimainin Nggak?

Jawaban singkatnya: iya, banget. Deathloop memang punya masalah. Progresnya grindy, jalurnya linear, dan AI-nya kadang malu-maluin. Namun, gaya visual retro 60-an, gunplay yang mantap, dan duo Colt-Julianna bikin semua itu gampang dimaafin.

Buat fans Dishonored atau immersive sim, ini wajib. Buat yang baru nyoba genre ini, Deathloop juga titik masuk yang ramah, karena mati di sini nggak ada hukumannya. Mati, belajar, ulang lagi. Honestly, itu filosofi hidup yang lumayan sehat. Sampai ketemu di loop berikutnya.

Baca juga