Game Baru

Review Roman Sands RE:Build: Kerja Resort Jelang Kiamat

Oleh ••6 menit baca

ngabquest — Oke, aku harus ngaku sesuatu dulu: aku udah nungguin game ini dari zaman trailer pertamanya, dan sekarang aku literally shaking. Roman Sands RE:Build akhirnya rilis 16 September 2026, dan hasilnya adalah salah satu game paling aneh yang pernah mampir ke library-ku. Bayangin kerja jadi staf resort mewah, tetapi matahari lagi siap-siap nelen bumi. Kedengarannya absurd? Memang. Namun justru di situ letak magisnya.

Game ini digarap Arbitrary Metric, studio di balik Paratopic, lalu diterbitkan oleh Serenity Forge. Jadi, kalau kalian pernah main Paratopic, kalian udah kebayang level keanehannya. Kalau belum? Siap-siap, bestie. Di review Roman Sands RE:Build ini, NgabQuest bakal ngebedah kenapa game ini bikin kepala muter. Selain itu, kita juga bahas kenapa dia belum tentu cocok buat semua orang.

ngabquest ~

Selamat Datang di Resort, Silakan Mulai Shift Kalian

Semuanya dimulai dengan cara paling random: karakter kita terdampar di pantai sebuah resort liburan. Tanpa penjelasan panjang, para tamu langsung nganggep kita pegawai. Parahnya, mereka punya daftar permintaan yang nggak ada habisnya. Misalnya, ada yang nyari kursi favoritnya, ada yang minta diambilin obat, ada juga yang cuma pengen minuman tertentu. Pokoknya customer service dari neraka, no cap.

Sementara itu, satu hari dibagi jadi beberapa segmen waktu: pagi, siang, dan malam. Tiap kali kalian pindah area lewat loading screen, jatah waktu langsung kepotong. Karena itu, kalian harus mikirin rute paling efisien sebelum hari berakhir. Begitu selesai, kalian balik ke pantai, semuanya direkap, lalu siklus diulang dari awal.

Nah, di sinilah time loop-nya mulai kerasa nagih. Setiap loop ngasih EXP dan upgrade, misalnya sprint lebih cepat, segmen waktu tambahan, sampai akses ke toko khusus. Akibatnya, loop berikutnya selalu terasa lebih lancar. Kalian mulai hafal jadwal tiap tamu dan tahu apa yang bakal mereka minta. Jujur, momen pas semua rute itu klik di kepala adalah momen paling memuaskan buatku. Rasanya kayak jadi pegawai teladan di tempat kerja yang jelas-jelas terkutuk.

Ada yang Nggak Beres di Balik Neon

Meskipun resort ini kelihatan cerah, banyak hal kecil yang bikin bulu kuduk berdiri. Tentakel nongol di tempat yang nggak seharusnya. Lukisan tiba-tiba berubah jadi portal. Bahkan matahari di langit terus membesar, siap menghancurkan planet. Semua detail itu muncul pelan-pelan di pinggir layar, seolah game ini sengaja ngetes seberapa peka kalian.

Selain itu, para tamunya sendiri udah cukup bikin pusing. Jumlah karakternya memang sedikit, tetapi masing-masing punya kepribadian yang… unik, sebut aja begitu. Dialognya tajam, lucu, dan kadang nyebelin banget. Beberapa pemain bahkan ngaku ngobrol sama mereka bikin gregetan. Menurutku, itu justru pujian, soalnya rasanya persis kayak ngadepin pelanggan rewel di dunia nyata.

Plot Twist: Ternyata Ada Game Kedua

Tanpa masuk terlalu dalam ke spoiler, Roman Sands RE:Build punya kartu as yang bikin aku teriak di depan monitor. Setelah progres tertentu, cerita kedua bakal kebuka. Kali ini, kalian jadi salah satu penyintas terakhir di fasilitas riset zoologi yang udah bobrok. Teman kalian cuma sapi yang udah mati dan suara misterius dari radio. Vibes-nya langsung berubah total, dari pesta neon ke horor sci-fi yang dingin.

Di bagian ini, fokusnya pindah ke puzzle dan survival. Kalian ditugasin membersihkan parasit dari sistem internal fasilitas. Namun, ada harga yang harus dibayar. Menyelamatkan hasil riset bisa berarti mengorbankan nyawa sendiri. Suasananya lebih suram, ada sedikit gore juga, dan si teman radio jadi satu-satunya penghibur.

Kemudian muncul pertanyaan terbesar: apa hubungan resort dan fasilitas riset ini? Itu misteri utamanya, dan game ini nggak buru-buru ngasih jawaban. Sebaliknya, kalian harus nyusun kepingan cerita dari dua dunia yang kelihatan nggak nyambung sama sekali. Ada juga minigame gacha misterius dan lore yang disebar di tiap sudut. Jadi, wajar kalau kalian butuh lebih dari satu playthrough buat nangkep semuanya.

Visual Y2K dan Soundtrack yang Bikin Down Bad

Oke, sekarang bagian yang bikin aku paling bucin. Art style-nya gila: warna neon yang saling nabrak, cel-shading gelap tapi tetap nyala, plus estetika Y2K dan vaporwave yang kental. Pas masuk dialog, gaya gambar karakternya berubah jadi lebih ekspresif ala visual novel. Hasilnya, tiap percakapan terasa kayak panel komik yang hidup.

Di sisi lain, audionya juga nggak main-main. Soundtrack-nya loncat dari lo-fi santai ke hyperpop dengan kecepatan penuh. Selain itu, hampir setiap aksi punya efek suara sendiri, mulai dari naik level, ngobrol sama NPC, sampai nyelesein objektif. Rasanya kayak main di arcade yang berisik. Memang kadang agak overwhelming, tetapi aku nggak bisa bayangin game ini tanpa semua bunyi itu. I’m so down bad for this soundtrack.

Tapi Nggak Semuanya Mulus

Sebagai fans yang tetap objektif, aku harus jujur soal kekurangannya. Pertama, paruh awal game lama-lama bisa terasa repetitif. Wajar sih, namanya juga time loop, tetapi nggak semua orang betah ngulang hari yang sama berkali-kali. Kedua, estetika paling menarik justru numpuk di bagian awal. Begitu masuk paruh kedua yang lebih berat cerita, visualnya jadi jauh lebih kalem.

Selain itu, cara bercerita game ini sengaja dibuat samar. Ada pemain yang suka karena ruang interpretasinya luas. Sebaliknya, ada juga yang ngerasa game ini terlalu menjaga jarak dari misterinya sendiri. Nggak heran kalau skor dari kritikus lumayan beragam, dari yang muji habis-habisan sampai yang cuma ngasih nilai sedang.

Terakhir, sempat ada beberapa bug yang bisa bikin progres macet, terutama di dialog. Untungnya, patch pertama udah nambal banyak masalah softlock, termasuk beberapa quest tamu yang sebelumnya nyangkut. Jadi, kondisinya sekarang jauh lebih stabil dibanding hari rilis.

Jadi, Worth It Nggak Check-In ke Roman Sands?

Buatku, jawabannya jelas: iya, banget. Roman Sands RE:Build adalah campuran work sim, visual novel, puzzle, dan horor yang nggak ada duanya. Kalau kalian suka game kayak Danganronpa, Mouthwashing, atau Inscryption, game ini bakal kerasa kayak rumah kedua yang agak angker.

Namun, kalau kalian cari gameplay yang lurus dan cerita yang gamblang, mungkin kalian bakal frustrasi. Game ini lebih mirip pengalaman ketimbang game tradisional. Karena itu, saran terbaikku: masuk sebuta mungkin, jangan kebanyakan baca spoiler, dan biarin resort ini ngerjain kepala kalian.

Roman Sands RE:Build udah bisa dimainkan di PC via Steam, PlayStation, Nintendo Switch, dan Xbox. Bahkan ada demo gratis di Steam kalau kalian mau icip dulu. Sekarang aku cuma mau satu hal: kalian main, lalu kita ngobrolin endingnya bareng. It’s so over for my sleep schedule, and honestly? Worth it.

Baca juga