Cara Main (Pemula)

Review Zelda Breath of the Wild dan Tips untuk Pemula

Oleh ••8 menit baca

ngabquest — Oke, gue mau jujur dari awal: gue nggak bisa netral soal game ini. The Legend of Zelda: Breath of the Wild itu bukan cuma game buat gue. Ini game yang bikin gue lupa makan, lupa balas chat, dan pernah bikin gue teriak jam dua pagi cuma karena berhasil nyebrang jurang pakai papan kayu yang gue terbangkan sendiri. My beloved. My everything.

Game ini rilis 3 Maret 2017 di Nintendo Switch dan Wii U. Sejak itu, nilainya nangkring di angka 97 di Metacritic, menyabet Game of the Year di The Game Awards 2017, dan terjual lebih dari 30 juta kopi. Hampir sepuluh tahun kemudian, orang masih nge-stream game ini di Twitch, masih adu speedrun, dan masih nemu trik baru. Selain itu, sekarang ada versi Nintendo Switch 2 Edition juga. Jadi kalau lo belum pernah main, atau mau balik lagi, artikel ini buat lo.

ngabquest ~ The Legend of Zelda: Breath of the Wild Review

Bangun Tidur 100 Tahun, Langsung Disuruh Selamatkan Dunia

Premisnya simpel tapi nendang. Link bangun di Shrine of Resurrection setelah tidur selama seratus tahun, tanpa ingatan, tanpa baju, cuma pakai celana dalam dan membawa sebuah tablet misterius bernama Sheikah Slate. Sementara itu, Hyrule sudah hancur lebur akibat Calamity Ganon. Putri Zelda? Masih bertahan di dalam Hyrule Castle, menahan monster raksasa itu sendirian selama satu abad.

Yang bikin gue literally shaking adalah cara ceritanya disampaikan. Nintendo nggak menyuapi lo pakai cutscene panjang di awal. Sebaliknya, lo mengumpulkan kepingan memori yang tersebar di seluruh peta. Setiap memori terasa kayak nemu foto lama di laci: kecil, sunyi, dan bikin hati remuk.

Di sisi lain, ada empat Champion yang dulu gugur bersama Divine Beast mereka: Mipha si Zora yang lembut, Daruk si Goron yang hangat, Revali si Rito yang nyebelin tapi ikonik, dan Urbosa si Gerudo yang, no cap, adalah salah satu karakter terkeren di franchise ini. Tugas lo adalah membebaskan Vah Ruta, Vah Rudania, Vah Medoh, dan Vah Naboris sebelum akhirnya menghadapi Ganon. Atau, kalau lo cukup gila, langsung serbu kastilnya dari menit pertama. Serius, game ini ngizinin.

Hyrule Itu Taman Bermain, Bukan Checklist

Inilah alasan utama Breath of the Wild dianggap mengubah genre open world. Kebanyakan game dunia terbuka memperlakukan peta sebagai daftar tugas: ikon di sini, ikon di sana, beres, pindah. Namun, Hyrule nggak begitu.

Lo naik ke Sheikah Tower untuk membuka peta wilayah, tapi peta itu cuma memperlihatkan topografi. Tidak ada tanda tanya bertebaran. Karena itu, cara lo menemukan sesuatu adalah dengan melihat. Ada asap di kejauhan? Mungkin perkemahan monster. Ada cahaya oranye di puncak bukit? Hampir pasti shrine. Ada batu yang posisinya aneh di atas tebing? Selamat, lo baru nemu Korok.

Pokoknya, apa pun yang bisa lo lihat, bisa lo datangi. Gunung? Panjat. Danau? Berenang, atau bekukan airnya. Tebing tinggi? Terjun dan buka paraglider. Kebebasan ini yang bikin gue down bad sama game ini sejak jam pertama. Setiap sesi main terasa kayak petualangan pribadi yang nggak bakal sama persis dengan orang lain.

Selain itu, isinya padat. Ada 120 shrine berisi puzzle dan ujian tempur, 900 biji Korok yang bisa dikumpulkan, puluhan side quest, kuda liar yang bisa dijinakkan, sampai desa-desa dengan penduduk yang punya rutinitas harian sendiri.

Chemistry Engine: Saat Game Bilang “Coba Aja Dulu”

Secara teknis, rahasia di balik keajaiban ini adalah sistem fisika dan “chemistry” yang saling terhubung. Api membakar rumput dan menciptakan arus udara panas yang bisa lo pakai terbang. Logam menghantarkan listrik, jadi pakai senjata besi pas badai petir adalah cara cepat buat kesamber. Kayu mengapung. Es mencair kalau kena api.

Kemudian, Sheikah Slate memberi lo empat rune utama. Magnesis untuk mengangkat benda logam, Stasis untuk membekukan waktu sebuah objek, Cryonis untuk membuat balok es dari air, dan Remote Bomb untuk, ya, meledakkan sesuatu. Kombinasi keempatnya melahirkan solusi yang sering kali nggak direncanakan developer sama sekali.

Misalnya, lo bisa pukul batu besar yang lagi di-Stasis berkali-kali, lalu melihatnya terlempar jauh. Atau, lo bisa naik ke atas balok Cryonis buat memanjat dinding. Gue pernah menyelesaikan puzzle shrine dengan cara yang jelas-jelas “salah”, dan gamenya tetap kasih gue hadiah. It’s so over for linear puzzles, honestly.

Great Plateau: Tutorial yang Diam-Diam Mengajarimu Segalanya

Area pertama, Great Plateau, adalah tutorial terbaik yang pernah gue mainkan. Seorang kakek misterius menyuruh lo menyelesaikan empat shrine di dataran tinggi itu sebagai ganti paraglider. Tanpa paraglider, lo nggak bisa turun. Sederhana.

Namun, di balik tugas itu, lo belajar semua dasar game: masak di api unggun, bertahan di suhu dingin, memanjat, bertarung, sampai memakai keempat rune. Semuanya diajarkan lewat eksperimen, bukan lewat pop-up teks yang menumpuk.

Saran gue buat pemula: jangan buru-buru keluar dari Great Plateau. Jelajahi setiap sudutnya, kumpulkan bahan masakan, dan cari baju hangat. Selain itu, jangan lupa pasang Hyrule Compendium lewat foto nanti, karena itu bakal membantu banget saat berburu bahan.

Tips Bertahan Hidup yang Pengin Gue Bisikin ke Diri Sendiri di 2017

Masak adalah kekuatan super lo

Masukkan hingga lima bahan ke dalam panci di atas api unggun. Makanan memulihkan hati, sedangkan elixir memberi efek khusus seperti tahan dingin, tahan panas, stealth, atau tambahan serangan. Bahan “hearty”, misalnya Hearty Durian, bisa memberi hati kuning ekstra. Kalau hasil masakan lo berupa Dubious Food, itu tandanya kombinasi bahannya ngaco. Jangan sedih, kita semua pernah di sana.

Prioritaskan shrine dan Spirit Orb

Setiap shrine yang selesai memberi Spirit Orb. Empat orb bisa ditukar di Goddess Statue menjadi satu Heart Container atau satu bagian Stamina Vessel. Menurut gue, tambah stamina dulu di awal sangat masuk akal karena memanjat dan melayang adalah inti eksplorasi. Selain itu, shrine berfungsi sebagai titik fast travel.

Senjata itu bakal patah, dan itu oke

Ya, durability senjata sering bikin frustrasi. Namun, sistem ini memaksa lo terus berganti gaya bertarung. Kumpulkan Korok Seed dan bawa ke Hestu supaya slot inventaris bertambah. Lempar senjata yang hampir patah ke musuh untuk damage ekstra.

Kuasai Flurry Rush dan parry

Menghindar tepat waktu (lompat samping atau lompat belakang) memicu Flurry Rush, momen slow-motion untuk serangan beruntun. Sementara itu, parry dengan timing pas bisa memantulkan laser Guardian. Rasanya? We are so back.

Tips Lanjutan: Stamina, Cuaca, dan Kuda

Hati-hati dengan hujan

Memanjat saat hujan bikin Link terus tergelincir. Daripada buang stamina, lebih baik istirahat di api unggun atau cari jalur lain. Kemudian, lepas perlengkapan logam saat badai petir.

Blood Moon bukan akhir dunia

Setiap beberapa waktu, langit memerah dan semua monster yang lo kalahkan hidup lagi. Memang menyebalkan, tapi Blood Moon juga berarti bahan dan senjata dari musuh ikut kembali.

Jinakkan kuda sejak awal

Dekati kuda liar diam-diam, naiki, lalu tenangkan dengan tombol berulang. Setelah itu, daftarkan di stable supaya bisa dipanggil lagi. Kuda sangat membantu untuk menyeberangi dataran luas.

Master Sword butuh 13 hati

Pedang legendaris ini ada di Korok Forest dan hanya bisa dicabut kalau lo punya 13 hati. Jadi, rajin-rajinlah mengumpulkan Spirit Orb.

Yang Bikin Gue Mengernyit

Sebagai bucin yang bertanggung jawab, gue tetap harus bilang game ini nggak sempurna. Pertama, empat Divine Beast sebagai pengganti dungeon klasik terasa terlalu mirip satu sama lain, baik dari segi estetika maupun boss-nya. Kedua, variasi musuh relatif sedikit, jadi setelah puluhan jam, lo bakal bosan melawan Bokoblin warna berbeda.

Selain itu, di Switch original, frame rate bisa anjlok di area padat seperti Korok Forest atau saat banyak efek ledakan. Durability senjata juga, jujur, bakal tetap jadi perdebatan abadi. Sebagian orang menyukainya, sebagian lagi merasa itu hukuman.

Meski begitu, semua kekurangan ini terasa kecil dibanding momen-momen ajaib yang ditawarkan.

Switch 2 Edition: Alasan Baru untuk Balik ke Hyrule

Pada Juni 2025, Nintendo merilis Breath of the Wild – Nintendo Switch 2 Edition. Versi ini membawa resolusi yang lebih tinggi, frame rate yang lebih stabil, dukungan HDR, serta waktu loading yang lebih cepat. Akhirnya, masalah performa yang dulu jadi keluhan bisa ditebus.

Di samping itu, ada fitur Zelda Notes lewat aplikasi Nintendo Switch App di ponsel. Fitur ini membantu navigasi ke lokasi yang belum lo temukan, menyimpan catatan petualangan, dan memberi bonus harian kecil. Pemilik versi Switch lama bisa membeli upgrade pack, sedangkan pemain baru bisa langsung membeli edisi lengkapnya. DLC seperti The Master Trials dan The Champions’ Ballad juga tetap bisa dimainkan, dan Champions’ Ballad khususnya wajib buat lo yang pengin nangis lebih banyak soal para Champion.

Masih Worth It Dimainkan di 2026?

Jawaban singkat: banget. Jawaban panjang: Breath of the Wild adalah game yang mengajarkan industri bahwa pemain bisa dipercaya. Ia nggak menuntun lo, nggak menceramahi lo, dan membiarkan lo gagal lalu mencoba lagi dengan cara sendiri. Bahkan setelah sekuelnya, Tears of the Kingdom, rilis pada 2023, pengalaman pertama menginjakkan kaki di Hyrule versi ini tetap punya keajaiban yang sulit diulang.

Kalau lo pemain baru, mulailah pelan-pelan dan nikmati tersesat. Kalau lo veteran, Switch 2 Edition adalah alasan sempurna untuk kembali. Pokoknya, Hyrule selalu menunggu.

Baca juga