Cara Main (Pemula)

Review Bayonetta 2: Hack and Slash Terbaik Era Wii U

Oleh ••6 menit baca

ngabquest — Oke, aku harus jujur dari awal. Aku nggak bisa nulis soal Bayonetta 2 dengan kepala dingin. Nggak mungkin. Cewek setinggi tiang listrik, pakai kacamata, rambutnya jadi baju, dan dia nendang malaikat pakai sepatu yang ada pistolnya. Itu literally my beloved. Aku down bad sejak menit pertama, dan jujur aku nggak menyesal sama sekali.

Namun, di balik semua teriakan fangirl ini, ada satu fakta yang nggak bisa dibantah: Bayonetta 2 adalah salah satu game action paling rapi yang pernah dibuat. No cap.

ngabquest ~ Bayonetta 2 Review

Game yang Hampir Nggak Pernah Ada

Sebelum masuk ke gameplay, kita perlu ngomongin sejarahnya dulu, karena jujur ini dramatis banget. Bayonetta pertama dirilis bareng Sega, tapi sekuelnya sempat nggak jelas nasibnya karena masalah pendanaan. Waktu itu rasanya it’s so over.

Lalu tiba-tiba Nintendo datang kayak fairy godmother dan bilang, “Oke, kami yang danain.” We are so back. Hasilnya, Bayonetta 2 dikembangkan PlatinumGames dan diterbitkan Nintendo, rilis eksklusif di Wii U pada 2014. Game ini disutradarai Yusuke Hashimoto, sementara Hideki Kamiya, bapak dari seri ini, tetap mengawasi dari belakang layar.

Tentu saja, banyak fans yang ngamuk karena game ini “cuma” ada di Wii U, konsol yang penjualannya… yah, kita semua tahu. Untungnya, pada Februari 2018, Bayonetta 2 akhirnya porting ke Nintendo Switch. Versi ini lebih mulus, bisa dimainkan handheld, dan akhirnya jauh lebih banyak orang bisa merasakan betapa gilanya game ini.

Ceritanya Absurd, dan Itu Justru Poinnya

Cerita dibuka dengan suasana Natal yang santai. Bayonetta lagi belanja bareng Jeanne, sahabat sekaligus rival Umbra Witch-nya. Kemudian, semuanya kacau. Sebuah serangan iblis yang lepas kendali membuat jiwa Jeanne terseret ke Inferno, alias neraka.

Oleh karena itu, Bayonetta langsung berangkat untuk menyelamatkannya. Petunjuknya mengarah ke Fimbulventr, gunung suci di kota Noatun, yang konon jadi gerbang antara dunia manusia dan neraka. Di sana dia ketemu Loki, bocah misterius yang hilang ingatan, dan sosok bertopeng bernama Masked Lumen yang terus-terusan menyerangnya.

Apakah ceritanya masuk akal? Sejujurnya, nggak terlalu. Plotnya penuh loncatan waktu, mitologi Norse, dan twist yang bikin kamu mikir “tunggu, ini siapa lagi?”. Meski begitu, dibanding game pertama, alurnya jauh lebih gampang diikuti. Selain itu, hubungan Bayonetta dan Jeanne di sini terasa hangat banget. Friendship ini adalah highlight emosional yang bikin aku literally shaking.

Pada akhirnya, cerita Bayonetta 2 adalah alasan buat kamu pindah dari satu set piece gila ke set piece yang lebih gila lagi. Misalnya, bertarung di atas jet tempur yang meluncur di tengah kota. Dan jujur? Itu cukup.

Combat: Di Sinilah Bayonetta 2 Jadi Dewa

Kalau cerita adalah bumbu, combat adalah makanan utamanya. Sistemnya kelihatan simpel: satu tombol pukul, satu tombol tendang, satu tombol tembak, satu tombol dodge. Namun, kedalamannya luar biasa.

Mekanik paling ikonik tentu saja Witch Time. Kalau kamu menghindar tepat sebelum serangan musuh kena, waktu melambat dan kamu bebas menghajar musuh tanpa balasan. Rasanya? Kayak jadi tuhan kecil selama beberapa detik. Sangat memuaskan.

Selain itu, ada Wicked Weave, serangan pamungkas di ujung combo yang memanggil tangan atau kaki raksasa dari rambut Bayonetta. Lalu Bayonetta 2 menambahkan mekanik baru bernama Umbran Climax. Saat bar magic penuh, kamu bisa mengaktifkannya dan setiap serangan berubah jadi Wicked Weave raksasa dengan area luas. Chaos total, dan aku suka.

Ada juga Torture Attack, eksekusi brutal yang memanggil alat-alat penyiksaan absurd, serta Beast Within yang memungkinkan Bayonetta berubah jadi macan kumbang untuk lari cepat, atau jadi ular saat di dalam air.

Kritik kecilnya, layar sering terlalu ramai. Efek partikel, cahaya, dan monster raksasa kadang menumpuk sampai kamu nggak tahu Bayonetta ada di mana. Kamera juga sesekali kalah cepat sama aksinya.

Senjata dan Kostum yang Bikin Down Bad

Bayonetta 2 punya koleksi senjata yang bisa dipasang terpisah di tangan dan kaki. Artinya, kombinasinya banyak banget. Kamu mulai dengan Love Is Blue, empat pistol andalan. Kemudian, seiring progres, kamu bisa membuka pedang Rakshasa, busur Kafka, sabit Chernobog, cambuk Alruna, sampai palu raksasa Takemikazuchi.

Masing-masing senjata mengubah ritme permainan secara signifikan. Misalnya, Chernobog terasa berat tapi mematikan, sementara Alruna bisa menarik musuh dari jauh. Karena itu, eksperimen build adalah bagian paling seru dari game ini.

Terus, karena ini game Nintendo, tentu ada fanservice ala Nintendo juga. Kamu bisa pakai kostum Princess Peach, Link, Samus, sampai tema Star Fox. Kostum Link bahkan kasih kamu Master Sword. Iya, beneran. Aku teriak waktu pertama lihat.

Tag Climax: Main Bareng, Taruhan Halo

Fitur baru yang cukup menarik adalah Tag Climax, mode co-op dua pemain. Di sini kamu dan partner bertarung bareng melawan gelombang musuh sambil mempertaruhkan Halo, mata uang dalam game. Semakin besar taruhan, semakin besar hadiahnya, tapi resikonya juga naik.

Mode ini nggak revolusioner, tapi jadi alasan kuat buat balik lagi setelah tamat. Apalagi kalau kamu punya teman yang sama-sama bucin combat system ini.

Tips Pemula Biar Nggak Langsung Babak Belur

Buat kamu yang baru pertama kali main, ini beberapa tips yang bakal sangat membantu:

  1. Manfaatkan loading screen. Selama loading, kamu bisa latihan combo. Kedengarannya sepele, tapi ini cara paling efisien buat hafal gerakan.
  2. Pelajari Dodge Offset. Tahan tombol serang saat menghindar, lalu lanjutkan combo setelah dodge. Dengan begitu combo kamu nggak putus meski harus menghindar.
  3. Prioritaskan Witch Time. Jangan asal spam serangan. Fokus membaca gerakan musuh, lalu dodge di momen yang pas.
  4. Belanja di Gates of Hell. Toko milik Rodin ini menjual teknik baru, item penyembuh, dan aksesori. Jangan pelit Halo, terutama untuk teknik dasar seperti Bat Within.
  5. Stok lollipop. Item ini bisa memulihkan darah atau magic. Oleh karena itu, selalu bawa cadangan sebelum boss fight.
  6. Cari Muspelheim. Ini ruang tantangan tersembunyi di tiap chapter. Menyelesaikannya kasih kamu hadiah upgrade darah atau magic.
  7. Jangan malu turun difficulty. Ada mode yang bikin combo lebih otomatis. Nggak ada yang ngejudge. Nikmati dulu, jago kemudian.

Presentasi: Absurd, Glamor, dan Penuh Gaya

Secara visual, Bayonetta 2 jauh lebih berwarna dibanding pendahulunya. Kota Noatun terasa cerah dan hidup, sementara area Inferno gelap dan mengerikan dengan cara yang indah. Selain itu, desain musuh, baik malaikat maupun iblis, sama-sama detail dan bikin merinding.

Soundtracknya? Wow. Lagu tema jazzy yang ceria, remix musik klasik, dan musik boss fight yang epic banget. Kombinasi ini bikin setiap pertarungan terasa kayak panggung pertunjukan.

Performanya juga solid. Di Wii U, game ini sudah berjalan mulus untuk ukuran konsolnya. Kemudian di Switch, pengalamannya makin enak karena bisa dibawa ke mana saja.

Jadi, Masih Layak Dimainkan Sekarang?

Singkatnya, iya. Banget. Bayonetta 2 adalah game yang tahu persis apa yang dia mau: jadi tontonan paling heboh sekaligus combat system paling responsif yang bisa kamu rasakan. Ceritanya memang ruwet dan kameranya kadang bikin frustrasi, tapi semua itu gampang dimaafkan begitu kamu masuk Witch Time dan melihat malaikat raksasa hancur jadi serpihan.

Kalau kamu belum pernah main, mulai sekarang. Kalau sudah, main lagi. Bayonetta pantas mendapatkan semua perhatianmu, dan aku akan terus bucin sama dia sampai kiamat.

Baca juga