Review MGSV Phantom Pain: Stealth Terbaik yang Belum Tuntas
ngabquest — Oke, dengar dulu. Aku mau ngomongin game yang udah umur sebelas tahun, dan aku masih literally shaking tiap ingat dia. Metal Gear Solid V: The Phantom Pain adalah game stealth open world yang rilis 1 September 2015. Namun, sampai sekarang belum ada game lain yang berani nyaingin kebebasan sandbox-nya.
Di review MGSV Phantom Pain ini, NgabQuest bakal bedah semuanya. Mulai dari gameplay, Mother Base, buddy kesayangan, tips buat pemula, sampai drama ceritanya yang bikin fans patah hati. Selain itu, kita juga bahas apakah game ini masih layak dimainkan di 2026.
Sebagai pengingat, ini karya terakhir Hideo Kojima di Konami. Oleh karena itu, game ini punya aura “surat perpisahan” yang berat banget. Ada cinta, ada ambisi gila, dan ada luka yang kelihatan jelas di bagian-bagian akhirnya.

ngabquest ~ Metal Gear Solid V: The Phantom Pain Gameplay
Snake Bangun dari Koma, dan Dunia Udah Berantakan
Ceritanya dimulai tahun 1984, sembilan tahun setelah kejadian Ground Zeroes. Big Boss bangun dari koma di sebuah rumah sakit di Siprus. Belum sempat napas, rumah sakitnya langsung diserbu pasukan misterius.
Prolog ini, jujur aja, unhinged banget. Ada paus api, ada anak melayang, ada pria terbakar yang nggak mati-mati. Kojima emang nggak pernah main aman soal pembukaan.
Setelah kabur, Snake dijemput Ocelot dan dibawa ke Diamond Dogs. Kelompok tentara bayaran ini dibangun Kazuhira Miller di platform lepas pantai dekat Seychelles. Kemudian, Snake ambil nama baru: Venom Snake.
Misinya sederhana di atas kertas, yaitu balas dendam. Targetnya Skull Face, pemimpin XOF yang ngancurin markas lama mereka. Selanjutnya, perjalanan itu membawa Snake ke Afghanistan yang diduduki Soviet dan perbatasan Angola–Zaire.
Menariknya, Snake versi ini hampir nggak ngomong. Kiefer Sutherland ngisi suaranya, gantiin David Hayter yang udah jadi ikon. Kojima sengaja bikin Snake pendiam supaya dia terasa kayak perpanjangan diri pemain.
Sandbox Stealth yang Bikin Literally Shaking
Nah, ini bagian di mana aku berubah jadi fangirl nggak ketolong. Gameplay MGSV itu, no cap, salah satu yang paling bagus yang pernah dibikin.
Setiap misi terasa kayak taman bermain taktis. Kalian bisa nyusup diam-diam pakai kardus. Sebaliknya, kalian juga bisa minta helikopter bombardir markas musuh dari udara. Bahkan, kalian bisa nyelipin bom ke truk patroli yang lagi lewat.
Selain itu, dunia game ini hidup banget berkat Fox Engine. Siklus siang-malam berjalan real-time, dan cuacanya dinamis. Misalnya, badai pasir bikin jarak pandang musuh berkurang. Hujan juga bisa nutupin suara langkah kaki kalian.
Yang paling bikin aku down bad adalah AI musuhnya. Mereka belajar dari kebiasaan kalian. Contohnya, kalau kalian doyan headshot, musuh mulai pakai helm besi. Kalau kalian sering nyusup malam hari, mereka bawa senter dan NVG.
Dengan kata lain, game ini maksa kalian terus ganti strategi. Nggak ada satu taktik ajaib yang aman selamanya. Akibatnya, tiap misi terasa segar walaupun lokasinya itu-itu lagi.
Di sisi lain, fitur Reflex Mode juga penyelamat. Begitu ketahuan, waktu melambat sebentar. Jadi, kalian punya kesempatan buat bius musuh sebelum dia teriak minta bantuan.
Mother Base, Fulton, dan Obsesi Nyulik Kambing
Kalau gameplay lapangan adalah jantungnya, Mother Base adalah otaknya. Markas ini bisa kalian kembangkan terus dari nol.
Caranya gampang tapi bikin nagih. Kalian tinggal pasang balon Fulton ke musuh yang pingsan. Lalu, wush, dia terbang ke langit dan jadi staf Diamond Dogs. Sumpah, ini mekanik paling lucu sekaligus paling adiktif sepanjang masa.
Bahkan, bukan cuma tentara yang bisa diculik. Kambing, beruang, kontainer, sampai tank juga bisa di-Fulton. Aku pernah ngabisin satu jam cuma buat nyulik domba. Nggak nyesel sama sekali.
Selanjutnya, staf yang terkumpul masuk ke berbagai tim, seperti R&D, Intel, dan Medis. Tim R&D membuka senjata baru. Sementara itu, tim Intel ngasih info posisi musuh dan cuaca. Makin tinggi level timnya, makin gila perlengkapan kalian.
Namun, ada juga sisi gelapnya. Mode FOB memungkinkan pemain lain nyusup ke markas kalian. Mereka bisa nyuri staf dan sumber daya. Buat sebagian orang, ini seru. Buat yang lain, ini bikin emosi.
Buddy System: D-Dog My Beloved
Snake nggak harus kerja sendirian. Ada empat buddy yang bisa diajak misi, dan masing-masing punya kegunaan unik.
Pertama, D-Horse, kuda setia buat jelajah peta luas. Kedua, D-Dog, anak serigala bermata satu yang tumbuh jadi mesin pendeteksi musuh. Ketiga, Quiet, sniper bisu dengan kemampuan supernatural. Terakhir, D-Walker, robot kecil yang lincah dan bisa bawa senjata berat.
Jujur, D-Dog my beloved. Dia bisa nandain musuh, tanaman, dan tahanan dari jarak jauh. Selain itu, animasinya detail banget sampai terasa kayak film animasi. Aku rela gugur di medan perang demi anak ini.
Sementara itu, Quiet jadi buddy paling kuat sekaligus paling kontroversial. Kemampuannya luar biasa, dan kisahnya menyentuh. Meski begitu, desain pakaiannya dikritik habis-habisan karena terlalu fan service. Alasan cerita memang ada, tapi banyak pemain tetap nggak terima.
Tips Buat Kalian yang Baru Mulai Nyusup
Buat kalian yang baru mau mulai, NgabQuest udah rangkum tips dasar dari pengalaman para veteran.
Fulton semua yang bisa di-Fulton. Staf adalah nyawa Mother Base. Oleh karena itu, prioritaskan musuh dengan stat tinggi, terutama untuk tim R&D.
Pakai teropong sebelum masuk markas. Tandai semua musuh dulu dari kejauhan. Dengan begitu, posisi mereka terlihat terus walau terhalang tembok.
Ambil D-Dog secepatnya. Pup ini muncul di awal permainan di Afghanistan. Setelah dewasa, dia jadi radar berjalan yang bikin misi jauh lebih santai.
Manfaatin Phantom Cigar. Cerutu elektronik ini bisa mempercepat waktu. Jadi, kalian bisa nunggu malam tiba sebelum nyusup.
Interogasi musuh. Tahan musuh pakai CQC, lalu tanya-tanya. Biasanya mereka bocorin lokasi tahanan, material, atau blueprint.
Kumpulin GMP dari mana aja. Berlian kasar, kontainer, dan side ops semuanya nambah dana. Selain itu, kirim pasukan ke misi tempur buat pemasukan pasif.
Jangan terpaku satu taktik. Ingat, musuh beradaptasi. Karena itu, sesekali ganti pendekatan biar mereka nggak makin kebal.
Cerita yang Bikin It’s So Over (Awas Spoiler)
Oke, di sinilah hatiku mulai retak. Gameplay MGSV memang we are so back. Sebaliknya, ceritanya lebih ke it’s so over.
Babak pertama berjalan cukup rapi. Konflik dengan Skull Face terasa jelas, dan rencana parasit bahasanya bikin merinding. Namun, setelah itu, Chapter 2 terasa seperti tambalan.
Masalah terbesarnya adalah misi ulangan. Kalian dipaksa main ulang misi lama dengan tingkat kesulitan lebih tinggi. Akibatnya, bagian paling emosional justru terasa berlarut-larut.
Selain itu, banyak cerita penting disembunyikan di kaset rekaman. Kalau kalian malas dengar, plot jadi terasa bolong. Bagi sebagian pemain, ini desain jenius. Bagi yang lain, ini cuma alasan buat ngirit cutscene.
Lalu ada Episode 51, misi penutup yang dipotong dari game final. Isinya konfrontasi Snake dengan Eli dan Sahelanthropus. Kontennya cuma muncul lewat video di Collector’s Edition. Banyak yang yakin konflik Kojima dengan Konami jadi penyebabnya.
Terakhir, plot twist Mission 46. Venom Snake ternyata bukan Big Boss asli, melainkan medis yang dijadikan umpan. Sebagian pemain merasa dikhianati. Meskipun begitu, makin lama makin banyak yang melihatnya sebagai momen meta yang brilian: kalianlah legenda itu.
Sebelas Tahun Kemudian: Masih Worth It?
Singkatnya, masih banget. Bahkan, menurutku justru sekarang waktu terbaik buat main.
Sebagai informasi, skor Metacritic-nya ada di kisaran 91 sampai 95, tergantung platform. Game ini juga terjual lebih dari enam juta kopi dalam empat bulan pertama. Selain itu, soundtrack-nya menang penghargaan di The Game Awards 2015.
Tentu, lukanya masih ada. Cerita yang belum tuntas tetap jadi phantom pain buat para fans lama. Namun, banyak pemain yang balik lagi setelah bertahun-tahun dan akhirnya berdamai dengan game ini. Mereka sadar gaya bercerita lewat kaset dan intel memang bagian dari visi Kojima.
Pada akhirnya, MGSV itu kayak mantan yang nyakitin tapi nggak bisa dilupain. Gameplay-nya masih jadi standar emas genre stealth. Jadi, kalau kalian belum pernah nyobain, ambil versi Definitive Experience. Isinya udah termasuk Ground Zeroes dan semua DLC.
V has come to. Dan aku masih nggak bisa move on.
