Review Titanium Court: Roguelite Match-3 Terunik Tahun Ini
ngabquest — Setiap kali ada yang bilang sebuah game susah dijelaskan, biasanya aku langsung memutar bola mata karena menurutku semua game pasti bisa dijelaskan dengan kata-kata. Namun, anggapan itu runtuh begitu aku memainkan Titanium Court, dan sekarang aku duduk di sini, literally shaking, sambil mencoba menjelaskan kenapa sebuah game match-3 bisa bikin aku memikirkan makna rambu STOP selama dua hari penuh.
Oleh karena itu, anggap review Titanium Court ini sebagai upaya jujur yang pasti bakal sedikit meleset dari pengalaman aslinya. Meskipun begitu, game ini terlalu berani untuk dilewatkan begitu saja, sehingga kamu tetap perlu tahu apa yang membuatnya jadi salah satu rilisan indie paling unik di 2026.
Secara singkat, Titanium Court adalah game strategi buatan AP Thomson, kreator asal New York. Sebelumnya, ia menggarap Consume Me, sedangkan game ini diterbitkan oleh Fellow Traveller. Titanium Court rilis pada 23 April 2026 untuk PC Windows dan macOS lewat Steam. Harganya pun cukup bersahabat, yaitu sekitar $14,99. Soal genre, game ini menggabungkan match-3, tower defense, roguelite, deckbuilder, dan visual novel. Anehnya, semua unsur itu tetap terasa utuh dalam satu paket.

ngabquest ~ Titanium Court Guide
Selamat Datang, Ratu yang Kehilangan Kunci
Premisnya punya vibe Alice in Wonderland yang sangat kuat sejak menit pertama. Awalnya, kamu sedang menjalani hari biasa ketika dunia di bawah kakimu tiba-tiba retak. Terrain baru itu kemudian membawamu ke gerbang sebuah istana misterius. Setelah itu, seorang faerie bernama Puck memberi tahu bahwa kamu adalah ratu yang lama menghilang. Bagi penggemar A Midsummer Night’s Dream, nama “Titanium Court” tiba-tiba terasa masuk akal di sini. Jujur saja, aku sampai teriak kecil saat menyadarinya, no cap.
Masalahnya, gelar ratu datang bersama kewajiban memimpin perang harian melawan istana merah. Anehnya, perang ini sama sekali tidak punya alasan yang jelas. Tidak ada motif besar, dan tidak ada pula dendam epik di baliknya. Kedua istana hanya bertarung setiap hari karena memang begitulah rutinitas mereka. Justru absurditas itulah yang bikin aku langsung down bad sama dunia ini.
Selain itu, sang protagonis ternyata kehilangan kuncinya, bahkan sekaligus kehilangan gemboknya. Kalau lelucon semacam itu sudah bikin kamu senyum, selamat, kamu akan betah. Pasalnya, humor sejenis inilah yang akan menemanimu sepanjang permainan.
High Tide dan Low Tide: Match-3 yang Berubah Jadi Medan Perang
Setiap pertempuran di Titanium Court terbagi menjadi dua fase yang saling berkaitan. Pertama, ada fase High Tide, saat kamu membentuk medan perang dengan aturan match-3 ala Bejeweled. Misalnya, mencocokkan tiga pohon akan memberimu kayu sebagai bahan perang. Sementara itu, batu dan air menghasilkan resource lain yang sama pentingnya. Di sisi lain, kamu juga bisa menghapus markas musuh dengan cara yang sama. Akibatnya, selalu ada dilema antara mengumpulkan bahan perang atau membersihkan ancaman.
Setelah itu, permainan masuk ke fase Low Tide yang tidak kalah menegangkan. Di fase ini, semua resource tadi dipakai untuk mengerahkan unit dalam bentuk kartu. Pilihannya beragam, mulai dari petani pengumpul resource hingga prajurit garis depan. Selanjutnya, pertempuran berjalan otomatis seperti autobattler tanpa campur tanganmu. Jika istanamu selamat, kamu bisa maju satu langkah di peta menuju pertarungan bos.
Bagian paling seru justru datang dari kejadian acak di tengah jalan. Sebagai contoh, toples raksasa bisa membuat prajurit faerie-mu lupa tugas karena sibuk membukanya. Seekor kambing kadang juga muncul untuk meminta uang tol. Menolak membayarnya hampir pasti berujung kekalahan karena amarahnya luar biasa. Belum lagi toko suvenir, papan reklame, hingga gudang penyimpanan pribadimu dari “rumah”. Sampai sekarang, aku masih bingung rumah yang dimaksud itu yang mana.
Kekalahan pun tidak membuatmu pulang dengan tangan kosong. Setiap kali tumbang, gelas Comfort milikmu terisi sedikit anggur. Begitu gelas itu penuh, kamu mendapat poin untuk membeli buff di awal run berikutnya. Dengan kata lain, ini sistem meta-progression yang manis, walaupun sedikit menyedihkan.
Tulisan Rasa Douglas Adams yang Nyasar ke Video Game
Nah, inilah alasan utama aku bucin berat pada game ini. Tulisan di Titanium Court benar-benar gila, tentu saja dalam arti terbaik. Bayangkan Douglas Adams dan Oscar Wilde berkolaborasi menulis naskah teater. Lalu, naskah itu tanpa sengaja berubah menjadi sebuah video game. Para faerie di istana ini berbicara penuh teka-teki dan omong kosong yang terasa dalam. Hal ini terutama terlihat saat mereka menemukan rambu jalan tanpa mengenal konsep mobil. Akibatnya, segi delapan merah bertuliskan STOP berubah menjadi misteri filosofis. Interpretasi mereka yang konyol sekaligus mengganggu itu terus terngiang di kepalaku.
Tak hanya itu, pilihan “karier” di game ini juga bikin ngakak. Ada Warlord, Arsonist, Celebrity, hingga Insurance Fraudster yang bisa kamu jalani. Masing-masing profesi mengubah cara bermain, sehingga eksperimen selalu terasa menyenangkan.
Presentasinya pun sama nyelenehnya dengan tulisannya. Ketika kastil musuh runtuh, layar dipenuhi pixel art bertema baseball. Kadang, yang muncul justru kucing yang dengan santai menjatuhkan cangkir dari bangku. Musiknya terdengar seperti rilisan kaset lo-fi dari seniman eksentrik. Bahkan, ada item yang mengganti pertarungan bos dengan konser langsung dari AP Thomson. Durasinya sengaja dibuat sangat panjang, seolah hukuman karena kamu menghindari konflik. Jujur, itu genius, unhinged, my beloved.
Untungnya, game ini juga menyediakan arsip cutscene yang bisa dibuka belakangan. Jadi, pemain yang rajin screenshot setiap dialog lucu punya tempat untuk membaca ulang semuanya.
Sisi Gelap di Balik Ubin Warna-Warni
Meskipun aku cinta mati sama game ini, aku tetap harus objektif. Pada kenyataannya, Titanium Court bukanlah game yang sempurna. Ironisnya, kekurangan terbesarnya justru terletak pada mekanik match-3 itu sendiri. Jika kamu tidak suka match-3, bersiaplah menghabiskan sebagian besar waktu untuk menggeser ubin. Sekompleks apa pun strategi yang ditambahkan, interaksi dasarnya tetap sama. Beberapa kritikus bahkan menilai game ini lebih cerdas ketimbang benar-benar seru.
Selanjutnya, ada masalah RNG yang sering terasa kejam. Ubin baru yang jatuh bisa langsung membentuk kombinasi sendiri tanpa kamu rencanakan. Karena itu, tembok pertahanan yang tersusun rapi bisa jebol dalam sekejap. Toko yang sedang kamu incar pun bisa lenyap akibat reaksi berantai. Ditambah lagi, setiap gerakan wajib membentuk match seperti aturan Bejeweled. Akibatnya, ubin di bagian bawah papan sangat sulit dimanipulasi.
Lebih jauh lagi, ada strategi walling off yang kekuatannya terlalu dominan. Caranya, kamu cukup memagari istana dengan terrain yang tidak bisa dilewati musuh. Selain gratis, taktik ini tidak butuh unit khusus dan bisa menetralkan hampir semua musuh. Alhasil, permainan serius cenderung jadi defensif dan terasa monoton. Padahal, kamu butuh sekitar 50 sampai 70 run untuk menamatkan cerita pertama kali. Apakah itu berarti it’s so over? Tentu saja tidak, karena narasinya cukup kuat untuk membuat setiap run tetap berarti.
Pengakuan Kritikus dan Pemain: We Are So Back
Terlepas dari semua kekurangan itu, dunia tampaknya sepakat bahwa game ini spesial. Buktinya, Titanium Court memenangkan Seumas McNally Grand Prize di IGF Awards 2026. Selain itu, game ini juga membawa pulang penghargaan Excellence in Design. Hebatnya lagi, AP Thomson meraih grand prize yang sama tahun sebelumnya lewat Consume Me. Dengan demikian, ia tercatat sebagai pemenang back-to-back pertama dalam sejarah penghargaan tersebut.
Dari sisi skor, Metacritic menempatkannya di kisaran 85 hingga 87. Sementara itu, status di Steam adalah Very Positive dengan sekitar 94% ulasan positif. Game ini juga sudah Steam Deck Verified, jadi kamu bisa jadi ratu sambil rebahan.
Secara teknis, Titanium Court tergolong sangat ringan untuk dimainkan. Kebutuhan minimumnya hanya RAM 2 GB dan ruang penyimpanan sebesar 600 MB. Durasi bermainnya bervariasi antara 6 hingga 30 jam, tergantung gaya bermainmu. Percayalah, rahasia di dalamnya sangat banyak dan layak digali. Bahkan setelah credits bergulir, masih ada misteri yang terasa belum terjawab.
Siapa yang Wajib Mengunjungi Titanium Court?
Pada dasarnya, Titanium Court adalah game untuk semua orang aneh di luar sana. Game ini khususnya cocok bagi kamu yang percaya video game bisa konyol sekaligus bermakna. Kalau kamu suka narasi eksentrik dan humor absurd, game ini layak masuk keranjang belanja.
Sebaliknya, jika kamu membenci match-3, cobalah demo gratisnya di Steam terlebih dahulu. Dengan begitu, kamu bisa memastikan apakah istana ini memang cocok untukmu. Aku sendiri masih di sana bersama Puck, sibuk mencari kunci yang hilang. Tentu saja, gemboknya juga masih belum ketemu.
