Rilisan Baru

Lara Croft Balik Lagi, dan Kali Ini Dia Bawa Skill Tree — Kita Perlu Bicara Soal Ini

Oleh 4 menit baca

ngabquest — Oke jadi gini. Aku lagi santai sore-sore, scroll timeline. Tiba-tiba trailer baru Tomb Raider: Legacy of Atlantis nongol. Aku langsung duduk tegak. My beloved Lara Croft akhirnya dapat kesempatan kedua. Cerita origin-nya bakal diceritakan ulang. Kali ini, Crystal Dynamics nggak main-main soal modernisasinya. No cap, ini bukan sekadar “remaster grafik doang terus selesai.” Ada tambahan sistem gameplay yang bikin aku antara excited dan sedikit was-was.

ngabquest ~ Tomb Raider: Legacy of Atlantis Gameplay

Buat yang belum ngeh, Legacy of Atlantis ini pada dasarnya adalah reimagining dari Tomb Raider generasi pertama. Dulu, game itu sukses mendefinisikan ulang siapa itu Lara Croft di mata publik. Proyek terbaru ini digarap bareng oleh Amazon Studios, Crystal Dynamics, dan Flying Wild Hog. Mereka baru saja merilis video breakdown yang membedah beberapa mekanik baru. Seperti judulnya sudah bocorin duluan, siap-siap ketemu Skill Tree dan sesuatu yang mereka sebut Focus Meter.

Skill Tree: Bumbu Wajib Game Modern yang Nggak Bisa Dihindari

Mari kita jujur sebentar. Rasanya sudah nggak ada lagi game action-adventure besar zaman sekarang yang berani rilis tanpa skill tree. Akhirnya, Legacy of Atlantis pun ikut merangkul tren ini. Lara sekarang bakal punya jalur progression ala RPG. Dengan kata lain, pemain bisa upgrade kemampuannya seiring cerita berjalan. It’s so over untuk versi Lara yang cuma modal dual-pistol dan insting bertahan hidup doang. Sebaliknya, we are so back dengan Lara yang bisa dikustomisasi sesuai gaya main masing-masing pemain.

Selain itu, ada kabar yang bikin aku makin down bad. Lara nggak lagi terjebak sama dua pistol ikoniknya doang. Katanya, bakal ada setidaknya tiga senjata tambahan di luar itu. Artinya, build combat kita bisa jauh lebih variatif. Mau tetap jadi purist yang stealth-stealth manis, silakan. Mau jadi berandalan yang ngebut nembakin semua musuh sambil salto, juga bisa. Kayaknya, game ini bakal ngasih ruang buat semua gaya main itu.

Selanjutnya, ada juga sistem crafting. Honestly, ini nggak mengejutkan. Tapi, tetap aja bikin aku antusias. Sepanjang eksplorasi reruntuhan kuno dan gua gelap penuh jebakan, Lara bakal ngumpulin macam-macam material. Material ini nggak cuma dipakai buat bikin item penyembuh. Selain itu, material itu juga bisa diracik jadi buff tambahan, baik dari sisi defensif maupun ofensif. Misalnya, bayangin aja lagi kepepet di tengah reruntuhan, kehabisan darah. Terus, tiba-tiba inget masih punya bahan buat racik ramuan damage boost. Literally shaking membayangkan momen panik seru kayak gitu.

Focus Meter: Bullet Time ala Lara Croft yang Bikin Aku Curious Banget

Nah, ini bagian yang paling bikin aku penasaran setengah mati: Focus Meter. Berdasarkan video breakdown, meter ini terisi tergantung cara kita bermain. Dengan kata lain, ini semacam reward system dari gameplay aktif kita. Begitu meter penuh dan diaktifkan, waktu di sekitar Lara bakal melambat secara signifikan.

Di momen slow-motion ini, ada dua keuntungan sekaligus. Pertama, kita dapat kesempatan pamer gerakan akrobatik khas seri originalnya. Contohnya, mulai dari lompat tebing sampai berayun pakai grappling hook. Kedua, kita juga bisa menyarangkan tembakan dengan presisi lebih tinggi. Otomatis, resiko meleset pun jadi jauh lebih kecil. Memang, konsep bullet-time seperti ini bukan barang baru di dunia gaming. Namun, kalau dipadukan dengan gerakan akrobatik Lara yang sudah terkenal luwes, fitur ini punya potensi jadi salah satu momen paling memorable di game ini. Coba bayangin lompat dari reruntuhan kuil yang mau runtuh. Lalu, Focus Meter aktif, dan kita menembak tepat waktu untuk membuka jalan keluar. Sinematik banget, kan?

Antara Excited dan Deg-degan

Aku tumbuh besar nonton Lara Croft solving puzzle kuno pakai logika doang, tanpa embel-embel RPG. Karena itu, jujur ada rasa campur aduk soal arah modernisasi ini. Di satu sisi, skill tree dan crafting bisa nambah kedalaman gameplay. Selain itu, fitur ini juga bikin replayability lebih tinggi. Di sisi lain, ada ketakutan klise. Jangan sampai elemen-elemen ini malah bikin core experience-nya keteteran. Eksplorasi, puzzle solving, dan platforming presisi jangan sampai kalah sama clutter di layar.

Meski begitu, sejauh ini yang diperlihatkan cukup meyakinkan. Aku tetap optimis. Khususnya, Focus Meter kedengarannya seperti fitur yang benar-benar dirancang untuk memperkuat identitas gameplay Tomb Raider. Jadi, fitur ini bukan sekadar tempelan sistem generik dari game lain.

Tomb Raider: Legacy of Atlantis sendiri dijadwalkan meluncur pada 12 Februari 2027. Game ini akan hadir di PlayStation 5, Xbox Series, Nintendo Switch 2, dan tentu saja PC. Masih ada waktu cukup panjang sampai rilis. Karena itu, kemungkinan besar bakal ada lebih banyak detail soal sistem-sistem ini yang diungkap ke depannya.

Gimana menurut kalian? Apakah kalian sama excited-nya kayak aku melihat Lara Croft dapat sentuhan modern ini? Atau, justru khawatir game ini bakal kehilangan jati diri klasiknya di tengah gempuran fitur RPG masa kini? Drop pendapat kalian di kolom komentar. Soalnya, aku beneran penasaran apakah aku sendirian di sini yang sudah terlanjur bucin duluan sama Focus Meter ini.

Baca juga