Review Pragmata: Nembak Sambil Hacking di Bulan, Susah Move On
Review Pragmata dari Ngab Quest: duo Hugh & Diana, combat nembak+hacking yang bikin otak lock in, dan kenapa skornya 8,5 meski awalnya bikin frustrasi.
ngabquest — Oke ngab, real talk dulu. Dari semua game yang pernah digantungin Capcom, Pragmata itu juaranya bikin deg-degan. Soalnya, game ini diumumin, lalu ngilang, dikonfirmasi ulang sambil minta maaf, ngilang lagi, sampai akhirnya beneran rilis 17 April 2026 kemarin. Lalu, hasil akhirnya gimana? Ternyata, ini adalah sci-fi shooter stasiun bulan yang bikin susah move on. Redaksi kasih skor 8,5, dan sisa artikel ini adalah aku menjelaskan kenapa angka itu pantas. Sesekali, aku juga bakal teriak soal Diana. Maaf ya, nggak bisa janji kalem kalau udah nyangkut android kecil satu itu.

ngabquest ~ Pragmata Gameplay
Nembak sambil hacking: chaos yang bikin otak lock in
Premisnya begini: Hugh, protagonis kita, tiba di fasilitas riset bulan milik korporasi Delphi yang anehnya kosong melompong. Di sana, dia diburu IDUS, AI pembangkang yang pengin dia lenyap. Namun, dia juga ketemu Diana, android berwujud anak kecil yang ternyata prototipe dari sesuatu bernama “Pragmata”. Nama aslinya sih cuma deretan angka, soalnya korporasi emang gitu orangnya. Selanjutnya, Diana nangkring di punggung Hugh kayak sarang sniper pribadi, dan dari posisi itulah seluruh identitas game ini lahir.
Robot-robot IDUS nggak mempan ditembak begitu aja. Karena itu, Diana harus meretasnya dulu: kamu menyusun jalur di matriks hacking menuju node hijau, sementara Hugh di saat yang sama tetap lari, dodge, dan balas nembak. Jadi, ada dua kerjaan sekaligus, satu otak, semuanya real time. Beberapa node bikin robot overheat, sementara node lain ngebuka critical hit dengan slow-motion ala arcade lengkap dengan angka damage muncrat di layar. Bahkan, reviewer GamesRadar+ Jasmine Gould-Wilson, yang namatin dalam 12 jam lebih dikit lalu langsung ngegas New Game Plus, sampai nyebut Pragmata sebagai “jawaban video game untuk Ritalin”. Sebagai deskripsi mekanik, itu akurat sekaligus chef’s kiss.
Selain itu, senjatanya juga niat: semua hasil cetakan 3D printer lunafilament, mulai dari Shockwave Gun (baca: shotgun), Homing Missiles, Decoy Gun, sampai Riot Blaster buat ngerubuhin gerombolan bot. Twist-nya, semua senjata di luar primary bakal hancur begitu peluru terakhir keluar. Ya namanya juga barang print-an. Alhasil, kamu dipaksa rajin mungut senjata baru sepanjang lima biome yang dalam ceritanya didesain oleh AI. Ada yang niru New York, ada juga “hutan” versi imajinasi mesin bernama Terra Dome. Nyasar? Jelas. Soalnya, tempatnya emang nggak didesain buat manusia.
Diana my beloved, protect at all costs
Di luar combat, jantung game ini ya hubungan Hugh dan Diana. Sepanjang eksplorasi, kamu bisa mungut REM alias Read Earth Memories, mainan cetakan 3D buat ngenalin Diana ke kehidupan anak-anak di Bumi. Setiap kali dikasih hadiah, dialog baru kebuka. Bahkan, sesekali dia gambarin sketsa mereka berdua sebagai ucapan terima kasih, dan percaya deh, itu serangan langsung ke ulu hati. Selain itu, ada juga mini-game petak umpet. Menurut GamesRadar+, buat pemula, Diana itu “unnecessarily good at it”. Jasmine sendiri ngaku ritual hariannya adalah nyapa Diana tiap pagi sebelum berangkat misi. Down bad? Iya. Relatable? Banget.
Yang bikin ngelus dada
Sekarang, masuk ke bagian tajamnya. Ekonomi item Pragmata itu overengineered parah. Ada lunafilament, pure lunum, upgrade component, data shard (yang fungsinya reviewer-nya sendiri nggak yakin), red gate key, plus Cabin Coins buat main bingo berhadiah sama robot ramah bernama Cabin. Satu-satu sih masih masuk akal. Tapi, kalau digabung, rasanya kayak dompet penuh kartu member minimarket.
Navigasinya juga old-school di sisi yang salah. Nggak ada minimap, jalur antar-ruangan bikin nyasar, dan collectible nggak ditandai di peta besar. Alhasil, ritualmu bakal jadi spam tombol scan sambil celingukan. Menurut catatan redaksi sendiri, kurva belajar awalnya lumayan bikin frustrasi karena multitasking-nya butuh pembiasaan. Lagipula, beberapa puzzle hacking mulai terasa berulang di pertengahan game. Untuk rincian plus-minusnya, kamu bisa lihat di kotak skor di bawah artikel ini.
Jadi, worth it nggak?
Kalau kamu nyari shooter yang nyuruh otak kerja dua shift dan pulang-pulangnya malah sayang sama anak android orang, maka Pragmata wajib masuk daftar. Sebaliknya, kalau kamu alergi manajemen lima mata uang dan hidupmu bergantung pada minimap, siapin kesabaran ekstra. Buat kami sih jelas: 8,5. Soalnya, Capcom lagi panas-panasnya, dan Pragmata bukti mereka masih berani bikin yang aneh-aneh, dalam artian terbaik.
