Review Risen: RPG Piranha Bytes yang Kasar tapi Memikat
ngabquest — Oke, gue mau ngaku satu hal dulu sebelum masuk ke review Risen ini: gue punya kelemahan besar sama game yang jelek-jelek-tapi-sayang. Lo pasti tahu tipenya. Animasinya kaku, UI-nya kayak dirancang buat nyiksa, dan musuh “level rendah” bisa bikin lo balik ke layar load dalam dua pukulan. Tapi entah kenapa, besoknya lo main lagi. Risen adalah raja di kategori itu, dan ya, gue down bad parah sama pulau vulkaniknya.
Risen dibuat oleh Piranha Bytes, studio Jerman di balik Gothic yang kemudian bikin ELEX. Game ini pertama kali rilis tahun 2009 di PC dan Xbox 360. Pada Januari 2023, THQ Nordic membawanya ke PS4, Xbox One, dan Nintendo Switch, sekaligus menambahkan dukungan gamepad di versi PC. Jadi, apakah game umur belasan tahun ini masih layak disentuh? Jawabannya ribet, persis kayak game-nya.
Faranga, Pulau yang Pengen Lo Mati

Premisnya klasik banget. Lo main sebagai pahlawan tanpa nama, penumpang gelap di kapal milik Inkuisisi yang sedang menuju Pulau Faranga. Badai aneh menghantam, kapalnya hancur, dan lo terdampar di pantai bareng satu penyintas lain. Selamat datang di neraka tropis.
Faranga lagi kacau balau. Gempa terus terjadi, kuil-kuil kuno tiba-tiba muncul dari dalam tanah, dan dari sana keluar monster yang jelas bukan buat dipeluk. Di tengah pulau berdiri gunung berapi aktif. Kalau lo pernah main Morrowind, vibe “datang naik kapal, ada gunung api di tengah, semua orang curiga sama lo” bakal terasa familiar banget.
Namun, jangan berharap cerita utamanya bikin lo literally shaking. Plot soal kuil dan titan kuno terasa standar fantasi, dan chapter pertamanya lambat karena lo terus disuruh mengantar barang. Meski begitu, di fase pelan inilah lo kenal warga pulau: pelayan kedai yang menyimpan rahasia, seorang ibu yang mencari anaknya, sampai bos-bos faksi yang licin. Akibatnya, begitu ancaman besar muncul, lo beneran peduli sama nasib mereka. Voice acting-nya kebanyakan solid, walaupun protagonis kita kadang terdengar kayak lagi nunggu ojol yang nggak kunjung datang.
Pilih Geng: Don Esteban, Inkuisisi, atau Para Penyihir

Di sinilah Risen mulai menunjukkan taringnya. Faranga terbelah jadi tiga kubu. Pertama, Don Esteban dan para banditnya yang berkemah di rawa, menawarkan kebebasan tapi juga kriminalitas tanpa rem. Kedua, Inkuisitor Mendoza dan Ordo-nya yang menguasai Harbor Town dengan aturan ketat. Ketiga, para penyihir di biara dekat gunung berapi, yang rekrutannya nggak semuanya datang dengan sukarela.
Pilihan faksi ini bukan sekadar kosmetik. Kubu yang lo ikuti menentukan quest yang terbuka, trainer yang mau mengajari lo, dan siapa yang langsung menyerang begitu ketemu. Selain itu, banyak side quest bisa diselesaikan dengan beberapa cara. Lo bisa mengkhianati teman demi harta bajak laut, atau tetap setia dan bertarung demi bagian lo. Bahkan ada satu quest yang terang-terangan menyindir The Godfather lewat kepala sapi di atas kasur. Iconic.
Sayangnya, kebebasan ini paling terasa di Chapter 1. Setelah lo memilih pihak, cerita perlahan menyatu ke jalur yang sama. Secara keseluruhan, game dibagi jadi empat chapter: perebutan kekuasaan di pulau, pencarian cakram kristal dan batu teleport, konflik di sekitar kuil gunung berapi, lalu perburuan set Armor Titan untuk duel terakhir melawan sang Titan.
Review Risen dari Sisi Combat: Kaku, Lengket, dan Bikin Emosi

Mari kita jujur: combat Risen adalah sumber trauma. Secara teori, alat lo lengkap. Ada block, parry, dodge, serangan balik, senjata jarak dekat, busur, crossbow, hingga lebih dari 20 mantra. Namun, praktiknya jauh dari mulus.
Lock-on otomatisnya lengket banget, apalagi saat lo sedang menahan block. Akibatnya, musuh kedua bebas menyerang dari samping sementara kamera lo masih “setia” ke musuh pertama. Lawan juga jago menangkis dan menghindar, sehingga jam-jam awal terasa lebih mirip survival game ketimbang RPG. Lo menang bukan karena jago, tapi karena stok potion lebih banyak dari HP lawan.
Tingkat kesulitannya juga berbasis wilayah. Artinya, satu langkah ke semak yang salah bisa mempertemukan lo dengan monster yang langsung nge-one-shot. Stingrat kedengarannya remeh, tapi di awal game mereka adalah predator puncak. Oleh karena itu, save sesering mungkin, karena autosave-nya pelit.
Kabar baiknya, combat berkembang seiring skill senjata naik. Di level awal lo cuma bisa kombo tiga pukulan, lalu riposte terbuka di level berikutnya, dan seterusnya. Ditambah lagi, ada momen ketika lo ditemani companion, dan pertarungan langsung terasa jauh lebih seru.
Skill, Trainer, dan Hidup sebagai Tukang Serabutan Fantasi

Level di Risen naiknya pelan, dan naik level saja belum cukup. Lo mendapat learning points, lalu harus membayar emas ke trainer untuk meningkatkan atribut atau skill. Ribet? Iya. Tapi sistem ini bikin setiap peningkatan terasa hasil perjuangan.
Pilihan skill-nya pun beragam. Lockpicking dimainkan dengan menekan urutan kiri-kanan yang tepat, dan jumlah kiri serta kanan di setiap kombinasi selalu sama, jadi manfaatkan itu. Smithing mengharuskan lo menambang bijih dengan beliung, lalu menempa pedang lewat landasan, bak air, dan batu asah. Sementara itu, alchemy bisa menghasilkan ramuan penambah stat permanen, dan cooking cukup butuh resep plus wajan atau kuali. Di sisi lain, hasil pickpocket kecil, jadi jangan buang banyak poin ke sana kecuali lo memang main karakter pencuri.
Eksplorasinya juga penuh mainan kecil: levitasi untuk melayang di atas perangkap duri, telekinesis untuk menarik tuas dari jauh, hingga berubah jadi makhluk mungil untuk menyelinap lewat celah sempit. Faranga bukan dunia terbuka paling luas, tapi padat. Setiap area baru bisa menyedot satu sampai dua jam quest.
Risen Paling Seru Justru Saat Lo Merusaknya

Ini bagian favorit gue, no cap. Risen jadi jauh lebih asyik ketika lo berhenti memainkannya “dengan benar” dan mulai mengeksploitasi sistemnya.
Kenapa bisa begitu? Dunia Faranga sudah terisi penuh sejak awal dan bersifat permanen. Monster yang mati tetap mati, peti yang dijarah tetap kosong, dan item quest sudah tersebar sebelum quest-nya muncul. Selain itu, NPC tunduk pada aturan yang sama dengan lo. Mereka bisa jatuh dari tebing, bertarung dengan hewan liar, atau dipukuli sampai pingsan lalu dijarah. Terakhir, quest pada dasarnya cuma kumpulan syarat, dan game nggak peduli bagaimana syarat itu terpenuhi.
Hasilnya? Disuruh membasmi segerombolan monster? Pancing saja mereka ke arah penjaga, bahkan ke si pemberi quest, lalu duduk manis dan klaim hadiahnya. Harus mengambil artefak dari reruntuhan berbahaya? Lari melewati semua penjaga sambil menenggak potion. Banyak makhluk juga nggak bisa memanjat dan nggak punya serangan jarak jauh, sehingga menembak dari tempat tinggi adalah strategi yang sah. We are so back.
Namun, semua itu ada harganya. Kalau lo bisa curang, AI juga bisa. Mati di tengah pertarungan bisa bikin item quest lo dijarah, dan menjual barang sembarangan bisa bikin quest “kumpulkan X” jadi repot. Untungnya, hampir selalu ada jalan lain untuk kembali ke jalur.
Tips Bertahan Hidup buat Pemula
Kalau lo baru mau mulai, simpan beberapa hal ini:
- Ikuti arahan NPC di awal dan tetap di jalan utama, karena musuh kuat sengaja ditaruh sebagai “pagar” urutan eksplorasi.
- Selalu bawa senjata jarak jauh, sebab beberapa tuas ada di area anti-sihir yang membuat telekinesis nggak berfungsi.
- Pakai perisai, karena resistansi tambahannya sangat berharga.
- Gabungkan sneak dan lockpicking di awal game untuk mencari uang tambahan.
- Simpan barang-barang aneh yang lo temukan, karena banyak di antaranya ternyata item quest.
Visual Jadul, Musik Juara, dan UI yang… Yah
Risen memang nggak pernah cantik. Model karakternya kaku, animasi lompat dan memanjatnya canggung, dan teksturnya sudah menua. Walau begitu, atmosfernya tetap kuat berkat siklus siang-malam, perubahan cuaca, dan musik garapan Kai Rosenkranz yang punya tema berbeda di tiap area. Soundtrack-nya benar-benar my beloved.
Masalah terbesarnya justru ada di antarmuka. Jurnal mencatat NPC penting tapi nggak menandainya di peta, petanya sendiri minim detail, dan mencari trainer terdekat bisa jadi ekspedisi tersendiri. Versi konsol 2023 memang punya UI yang dirombak dan kontrol gamepad penuh, tapi peta serta menu quest masih terasa sempit, terutama di Switch mode handheld.
Fun fact: Risen sempat ditolak klasifikasinya di Australia pada 2009, jadi pemain di sana harus membelinya dari eShop negara lain. Chaotic.
Versi Konsol 2023: Worth It?

Port modernnya jelas lebih waras dibanding versi Xbox 360 yang dulu terkenal bermasalah. Resolusinya lebih tinggi, performanya lebih stabil, jarak pandangnya lebih jauh, dan kameranya nggak sesensitif dulu. Di Switch, game ini jalan cukup lancar dengan tersendat sesaat ketika autosave. Meski begitu, ini tetap port langsung, bukan remake, jadi jangan kaget kalau semuanya masih terasa seperti 2009.
Soal durasi, materi promosinya menyebut lebih dari 60 jam. Sebaliknya, pemain yang fokus bisa tamat di kisaran 30 jam. Untuk ukuran RPG modern itu tergolong ringkas, dan buat sebagian orang justru nilai plus.
Jadi, Risen Masih Layak Dimainkan?
Kalau lo mencari cerita sekelas The Witcher 3 atau combat seresponsif game Souls, jawabannya jelas nggak. Namun, kalau lo tipe pemain yang menikmati dunia keras yang reaktif, faksi dengan konsekuensi nyata, dan kebebasan untuk “ngakalin” sistem, Risen adalah Eurojank dalam bentuk terbaiknya.
Ada rasa pahit juga di sini. Piranha Bytes dilaporkan sedang dalam proses penutupan sejak akhir 2023, sehingga memainkan Risen sekarang terasa seperti membuka album foto lama. It’s so over untuk studionya, mungkin. Tapi Faranga? Pulau itu masih menunggu pahlawan barunya, dan masih pengen lo mati.
