Perbandingan Game

5 Open-World RPG yang Wajib Ditamatkan Sampai Akhir

Oleh 5 menit baca

ngabquestOpen-world RPG itu makhluk paling rakus soal waktu di seluruh industri gim. Kamu buka game, niatnya cuma mau ngecek quest utama sebentar. Eh, tau-tau udah jam 2 pagi dan kamu masih sibuk ngumpulin bunga langka buat NPC tanpa nama. Been there. Down bad for a side quest, honestly, lebih sering dari yang mau aku akui.

Makanya, nggak semua open-world RPG perlu ditamatin 100%. Skyrim, misalnya, boleh dimainkan sampai tua tanpa pernah ngalahin Alduin. That’s valid, itu gaya main yang sah-sah aja. Tapi ada segelintir game yang beda cerita. Kalau kamu berhenti di tengah jalan, kamu literally merampok diri sendiri dari pengalaman terbaiknya. Ibaratnya, kamu udah bayar tiket roller coaster tapi turun sebelum drop pertama.

Jadi, ini dia lima open-world RPG yang wajib dikejar sampai credit roll. Bukan buat 100%-in semua achievement atau nyariin tiap peti harta karun, cukup selesaikan cerita utamanya aja. That’s the bar. Sisanya boleh dilewatin.

Cyberpunk 2077 — Night City Nggak Ngasih Ampun, dan Justru Itu Serunya

Semua orang mungkin bakal nyaranin The Witcher 3 buat list kayak gini. Tapi jujur aja, durasinya bikin capek duluan sebelum sampai ke titik penting. Klimaksnya pun kerasa kurang mendesak, padahal taruhannya gede banget.

Cyberpunk 2077 beda cerita. Perjalanannya jauh lebih padat. Ada jam pasir yang terus tiktok-tiktok di belakang kepala. Night City bukan kota buat dijelajahin santai, melainkan mesin penggiling yang nguji idealisme, insting, dan seberapa jauh kamu rela kehilangan kemanusiaan demi bertahan hidup.

Babak akhirnya, my beloved, jadi titik di mana semua pilihanmu numpuk jadi satu keputusan besar soal gimana V bakal keluar dari panggung ini. Namun, yang bikin literally shaking bukan cuma endingnya. Ini soal gimana hubungan V dan Johnny Silverhand berkembang jadi salah satu dinamika paling personal dalam sebuah RPG. Kalau berhenti sebelum akhir, kamu cuma dapet setengah cerita cinta-benci paling ikonik generasi ini.

Selain itu, sistem progresi gimnya juga keterlaluan seru. Kamu bisa bikin V jadi monster cyberware yang bikin seluruh Night City ketakutan sendiri.

Dragon’s Dogma: Dark Arisen — Baru Benar-Benar Dimulai Setelah “Tamat”

Game ini agak beda dari yang lain. Dragon’s Dogma: Dark Arisen wajib ditamatin karena alasan teknis, tapi sangat penting. Konten terbaiknya, Bitterblack Isle, baru muncul setelah kamu ngalahin bos akhir game utama.

Begitu ceritanya selesai, ekspansi Dark Arisen menyalakan dungeon endgame. Di sinilah semua sistem RPG dalam akhirnya benar-benar dimanfaatkan maksimal. Sebelumnya, sistem itu cuma “ada” tapi jarang kepake serius.

Konten vanilla-nya sendiri lumayan gampang setelah beberapa jam. Sebaliknya, Bitterblack Isle beda level. Kamu dipaksa optimasi stat, augment, sampai Pawn, karena kalau nggak, siap-siap jadi debu. Sistem Vocation di game ini juga salah satu yang paling fleksibel buat eksperimen. Konten post-game inilah tempat semua potensi itu akhirnya dipakai habis-habisan. It’s so over kalau kamu berhenti sebelum ke sini, karena kamu bakal ninggalin bagian paling seru dari keseluruhan game.

Nier: Automata — “Tamat” Itu Konsep yang Relatif

Yoko Taro emang jenius yang agak menyiksa pemainnya. Nier: Automata nggak beneran tamat sampai kamu ngelewatin salah satu bullet-hell fight paling gila dalam sejarah gaming.

Ceritanya dibagi jadi rute-rute alfabet. “Ending A” cuma permulaan, bukan replay, melainkan lanjutan cerita. Berhenti di situ ibarat matiin Red Dead Redemption 2 abis Chapter 2 doang.

Cerita sebenarnya baru kelar di “Ending E”. Artinya, kamu perlu “mengulang” campaign sampai empat kali. Rute C dan D basically sekuel penuh dari rute A dan B. Rute-rute ini ngenalin protagonis baru sambil perlahan ngebongkar kehancuran karakter utama sebelumnya. Akhirnya, Rute E menutup semuanya dengan salah satu pertanyaan meta paling absurd dan paling menyentuh dalam sebuah gim. My beloved 2B and 9S, susah move on dari cerita ini.

Fallout: New Vegas — Game Ini Ingat Semua Pilihanmu

Bethesda RPG memang punya banyak penggemar, tapi jujur, ending mereka sering kerasa formalitas doang. Skyrim contoh paling gampang. Ending Fallout 3 dan 4 pun terasa buru-buru dan kurang nyambung sama pilihan yang udah dibuat selama puluhan jam.

Di sisi lain, Fallout: New Vegas garapan Obsidian nggak punya masalah itu. Setiap pemukiman kecil, quest loyalitas, sampai baku tembak antar faksi, semuanya punya dampak nyata ke keadaan dunia di akhir cerita. Game ini membangun efek domino yang jarang ditemukan di RPG open-world lain.

Kalau kamu berhenti sebelum Pertempuran Kedua di Hoover Dam, kamu merampok diri sendiri dari jaringan sebab-akibat itu. Alhasil, semuanya cuma jadi kumpulan side quest yang berdiri sendiri-sendiri. We are so back setiap kali mikirin gimana rapinya konsekuensi di game ini.

Yakuza: Like a Dragon — Ending yang Bikin Segalanya Lebih Berarti

Ryu Ga Gotoku Studio ambil risiko besar saat mengganti formula dari action jadi turn-based. Ternyata, mereka murid yang sangat cakap dari sekolah Dragon Quest. Yakuza: Like a Dragon memang panjang, gampang nyampe 50 jam. Apalagi ada tembok grinding nyebelin di Chapter 12 yang bikin banyak orang mau nyerah.

Namun, kalau kamu berhenti di sekitar Chapter 10, kamu cuma dapet game yang seru dan agak konyol doang. Padahal, beberapa jam terakhirnya justru klimaks yang indah, dengan bobot emosional yang naik drastis.

Ujung-ujungnya, menyelesaikan campaign berarti kamu dapet salah satu cerita terbaik dalam genre ini. Penutupnya memuaskan buat semua karakter, termasuk anggota partimu. Ending ini genuinely merekontekstualisasi semua yang terjadi sebelumnya.

Sebelum Kamu Log Off

Itu dia lima game yang layak diselesaikan sampai habis, bukan cuma dimainin setengah jalan lalu di-quit begitu saja. Kalau minatmu mulai luntur di tengah jalan, coba dorong diri buat push through sampai akhir. Khusus untuk lima game ini, usaha itu bakal worth it banget.

Kalau ada rekomendasi lain versi kamu, boleh banget dibagikan di kolom komentar NgabQuest. Diskusi seru soal RPG open-world memang nggak ada habisnya.

Baca juga