Onimusha: Way of the Sword, Bukti Capcom Serius Bangkit
ngabquest — Ketika Capcom bilang mereka mau “membangkitkan” salah satu IP lawas mereka lagi, reaksi pertamaku biasanya curiga setengah mati. Pasalnya, kita semua sudah terlalu sering dikecewakan oleh reboot yang cuma bermodal nostalgia tanpa substansi. Namun, Onimusha: Way of the Sword ternyata berbeda. Game ini bahkan bikin aku shaking di depan controller karena saking niatnya Capcom menggarap comeback ini. Oleh karena itu, aku akan membedah kenapa game ini nyaris sempurna, sekaligus satu masalah yang berhasil bikin aku pengen teriak ke langit.

ngabquest ~ Onimusha: Way of the Sword Gameplay
Cerita yang Langsung Menghisap Perhatian
Cerita game ini langsung nge-hook sejak menit pertama. Lupakan koneksi ke seri Onimusha sebelumnya, sebab kali ini kamu bakal jadi Miyamoto Musashi. Ya, dialah samurai legendaris yang namanya sudah jadi sinonim kata “jago pedang”. Musashi sedang asik mencari lawan sepadan untuk ditaklukkan, tiba-tiba dia bertemu gerombolan monster bernama Genma. Skill pedangnya pun mendadak tak berarti apa-apa di hadapan mereka. Dia mati. Titik.
Namun, di tengah perjalanan menuju akhirat, sosok misterius berjubah putih datang menyelamatkannya. Sosok itu menyematkan Oni Gauntlet ke tangan Musashi, sarung tangan setan yang membuatnya bisa hidup kembali sekaligus mendapat kekuatan untuk melawan para Genma. Dramanya nggak berhenti di situ. Harga diri Musashi harus ambruk karena butuh bantuan kekuatan supranatural untuk menang, apalagi setelah dia sadar bukan satu-satunya pemegang Oni Gauntlet. Rivalnya sendiri, Ganryu, ternyata juga memegang senjata yang sama.
Presentasi Visual yang Bikin Terpukau
Selanjutnya, mari bicara soal presentasi, karena inilah bagian yang bikin aku down bad. RE Engine memang sudah lama jadi andalan Capcom. Akan tetapi, di Onimusha, engine ini benar-benar dipush ke level ekspresi yang belum pernah aku lihat dari game Capcom manapun sebelumnya. Detail kain, efek partikel saat dua pedang beradu, sampai cara wajah karakter “berbicara” lewat kerutan alis atau sudut senyum, semuanya terasa hidup. Terlebih lagi, opening 15 menit pertamanya menjadi salah satu pembuka game paling megah yang pernah aku tonton. Bahkan, hanya kalah tipis dari God of War: Ragnarok.
Soal Musashi yang memakai wajah Toshiro Mifune, aktor samurai legendaris itu, awalnya aku cukup skeptis. Pikirku, ini cuma gimmick marketing belaka. Namun, begitu masuk ke dalam game, kamu akan langsung mengerti kenapa pilihan ini genius. Ekspresi Mifune yang dipinjam ke Musashi berhasil menangkap esensi drama samurai klasik. Selain itu, karakter-karakter pendukung lain juga sama kuatnya, mulai dari Ganryu si rival dengan ambisi mengerikan, hingga antagonis utama yang begitu identitasnya terbuka langsung bikin campur aduk antara takut dan kagum. Singkatnya, ini roster karakter terbaik yang pernah Capcom bikin.
Sensasi Bertarung dengan Pedang
Bagian paling penting dari game action tentu saja soal rasanya memegang pedang. Onimusha: Way of the Sword bukan souls-like, dan juga bukan klon Sekiro meski ada elemen parry yang mirip. Gerakan Musashi jauh lebih berat dan lebih “samurai” ketimbang lincah seperti Wolf. Yang membuat sistem tarungnya nagih adalah pilihan pertahanannya, karena ada lima opsi sekaligus: block biasa, dodge, parry, deflect, dan yang paling gila, Issen. Issen sendiri merupakan serangan balik dengan timing super sempit yang, kalau berhasil, rasanya seperti orgasme visual. Setiap opsi pertahanan ini juga menjadi fondasi untuk serangan balik. Dengan begitu, kamu tidak cuma bertahan, tapi aktif membangun tekanan balik ke musuh.
Catatan dari NgabQuest soal Kurva Kesulitan
Di sisi lain, NgabQuest dalam ulasan mereka sempat menyebut kurva kesulitan game ini agak “wonky”. Kadang terlalu gampang, kadang tiba-tiba melonjak susah tanpa alasan jelas, dan boss terakhir dinilai overtuned. Selain itu, mereka juga merasa tone cerita game ini kadang plin-plan, melompat dari momen goofy yang lucu ke drama berat yang belum terbangun emosinya. Penilaian ini cukup masuk akal, dan menjadi pengingat bahwa tidak semua orang akan merasakan “kesempurnaan nyaris” yang sama seperti yang aku rasakan. Bagi sebagian gamer, inkonsistensi ini bisa jadi dealbreaker beneran. Meski begitu, soal combat-nya sendiri, hampir semua orang sepakat bahwa begitu kamu paham ritmenya, rasanya jadi ketagihan.
Satu Ganjalan Besar: Eastern Kyoto
Sekarang, mari kita bahas satu-satunya hal yang bikin aku pengen banting controller ke tembok, yaitu Eastern Kyoto. Ini adalah hub utama game, tempat kamu bolak-balik di antara misi. Konsepnya sebenarnya oke di atas kertas, karena kamu bisa farming Red Souls, mengerjakan side quest, dan mengumpulkan Charm untuk buff Musashi. Sayangnya, eksekusinya justru membosankan. Setiap area yang kamu bersihkan terlihat sama saja, mulai dari reruntuhan kusam, NPC yang berdiri diam atau tampak terluka, hingga hujan yang turun terus-menerus. Padahal, game seperti Ghost of Yotei atau Assassin’s Creed: Shadows sudah menunjukkan cara membuat area hancur tetap terasa dramatis dan indah. Onimusha sebenarnya punya modal untuk ke sana, tapi belum berhasil mencapainya.
Layak Dicoba?
Pada akhirnya, Onimusha: Way of the Sword adalah game action pedang paling memuaskan yang aku mainkan belakangan ini. Kombinasi combat yang ketat, karakter yang berbobot, dan presentasi yang megah menjadikannya begitu istimewa. Satu-satunya ganjalan besar hanyalah hub kota yang terasa kurang dipoles. Bagi pencinta game action intens dan penggemar film samurai lawas, game ini wajib dicoba. Namun, bagi yang mengharapkan kecepatan ala Devil May Cry atau kekejaman murni Sekiro, sebaiknya sesuaikan dulu ekspektasimu. Terlepas dari itu, satu hal yang pasti: Capcom benar-benar sudah kembali.
