Review Game Baru

Where the Seeds Fall Resmi Diumumkan, Rilis November 2026

Oleh 7 menit baca

ngabquestOke, gue butuh semua orang duduk dulu sebentar. Karena setelah bertahun-tahun kita semua kolektif menderita gara-gara game panjat-panjat sadis yang bikin pengen banting stik — you know the ones, yang tiap kali salah lompat langsung balik ke titik nol dan bikin lo teriak di jam dua pagi — akhirnya ada developer yang bilang, “Gimana kalau arahnya kita balik aja?”

Nama gamenya Where the Seeds Fall. Diumumkan lewat trailer di State of Play September 2026. Dan setelah nonton trailer-nya tiga kali berturut-turut sambil mulut menganga, gue cuma bisa bilang: my beloved, akhirnya lo dateng juga.

ngabquest ~ Where the Seeds Fall Gameplay

Where the Seeds Fall Bukan Game Panjat, Tapi Game Turun

Jadi begini konsepnya. Semua game “rage platformer” yang lo kenal — yang tokohnya lompat naik terus, salah dikit langsung jatoh berpuluh-puluh meter — itu soal naik. Perjuangan lo ke atas, dan gravitasi adalah musuh utama.

Where the Seeds Fall justru sebaliknya. Di sini lo turun. Dari puncak sebuah pohon raksasa, ke bawah, ke permukaan bumi yang udah lama ditinggalin manusia. Gravitasi bukan lagi musuh, tapi partner kerja yang moody banget.

Namun jangan salah paham dulu. Turun bukan berarti gampang. Justru karena arahnya ke bawah, tiap keputusan lo jadi permanen dengan cara yang beda. Lo nggak bisa “coba lagi dari platform tadi” kalau platform tadi udah di atas kepala lo dan lo lagi meluncur bebas ke arah yang salah.

Vibes-nya, buat gue, kayak momen di game Souls di mana lo harus turunin lubang lewat papan-papan kayu tipis sambil nahan napas — tapi dijadiin satu game utuh. Dan ya, itu ide yang gila. Gue suka.

Cerita Prajurit Berduka dan Anak yang Dianggap Pertanda Buruk

Ini bagian yang bikin gue down bad, honestly.

Latar dunianya: bumi udah tercemar wabah bernama Blight. Manusia nggak bisa lagi hidup di permukaan, jadi mereka pindah ke atas — tinggal di cabang-cabang World Tree, satu pohon kolosal yang jadi tempat perlindungan terakhir umat manusia.

Di masyarakat pengungsi ini, ada mitos soal Fell Child — anak-anak yang dianggap pertanda malapetaka dan diusir dari komunitas. Klasik banget, ya? Masyarakat ketakutan, cari kambing hitam, dan yang kena selalu yang paling nggak berdaya.

Lo main sebagai seorang prajurit yang sedang berduka. Suatu hari dia ketemu seorang Fell Child yang wajahnya mirip banget sama putrinya yang udah meninggal. Dan alih-alih menjalankan perintah yang seharusnya, si prajurit malah memutuskan mengantar anak itu turun ke permukaan.

Sorry, tapi gue literally shaking. Premis “bapak berduka mengantar anak asing turun dari pohon raksasa karena anak itu mengingatkan dia sama anaknya sendiri” itu emotional damage yang gue tanda tangani dengan senang hati. No cap.

Mekanik Benih dan Bunga, Cara Selamat dari Ketinggian

Sekarang bagian yang bikin gamenya jalan.

Sepanjang World Tree, lo bakal nemu kuncup bunga khusus. Lo bisa ambil, bawa, dan lempar ke titik yang lo mau. Kuncup itu bakal mekar jadi bunga besar yang berfungsi sebagai bantalan pendaratan — menyerap benturan dari jatuh yang seharusnya fatal.

Jadi mekanik intinya bukan cuma soal timing lompat. Ini soal perencanaan. Sebelum lompat, lo harus mikir: bawah sana ada pijakan aman nggak? Kalau nggak ada, gue lempar benih dulu atau gue simpan buat nanti?

Karena itu, tiap benih jadi keputusan berisiko. Lo cuma punya sumber daya terbatas, sementara jalan turun masih panjang. Boros di awal, lo bakal nyesel di tengah. Terlalu pelit, lo bakal mentok di lompatan yang mustahil dilewati tanpa bantalan.

Di sinilah desainnya pinter: jatuh berubah dari hukuman jadi alat. Lo nggak menghindari jatuh — lo mengatur gimana caranya jatuh. Dan itu pergeseran cara pikir yang jarang banget gue temuin di platformer.

Angin Kencang dan Ranting yang Rapuh

Selain benih, World Tree juga punya cara sendiri buat bikin hidup lo susah.

Angin kencang bakal ngedorong lo di tengah udara dan bikin lompatan yang tadinya udah dihitung matang jadi meleset beberapa meter. Permukaan pijakan juga nggak selalu solid — banyak yang retak, goyang, atau langsung rontok begitu lo injek.

Menurut penjelasan developer, tiap lompatan dan tiap kejatuhan memang dirancang buat memunculkan rasa bahaya dan takut. Dan dari trailer-nya, itu berhasil. Ada momen di mana kamera menarik jauh, nunjukin seberapa tinggi lo berada, dan perut gue langsung mules kayak lagi naik roller coaster.

Di sisi lain, gamenya nggak terasa sadis kayak rage game biasa. Ada nuansa tenang dan puitis yang nempel di seluruh presentasinya. Warnanya lembut, musiknya kalem, dan tempo geraknya nggak buru-buru. Kombinasi “indah tapi mematikan” ini yang bikin gue penasaran setengah mati.

Cuma Tiga Jam, Tapi Ada Time Trial dan Map Sulit

Nah, ini bagian yang bakal bikin sebagian orang skeptis: durasi ceritanya sekitar tiga jam.

Tiga jam. Itu doang.

Tapi jujur? Gue justru lega. Di tahun 2026 di mana semua game maunya jadi 80 jam padahal isinya 30 jam konten yang diregangin, game tiga jam yang padat dan selesai sebelum lo bosan itu terasa kayak hadiah.

Lagipula, setelah cerita utama tamat, lo dapet konten tambahan: map dengan tingkat kesulitan lebih tinggi dan mode time trial. Tiap level juga dinilai berdasarkan beberapa faktor, termasuk seberapa cepat lo nyampe tujuan. Jadi buat yang doyan ngulang dan ngejar rute paling efisien, ada alasan buat balik lagi.

Meskipun begitu, gue tetep punya satu kekhawatiran: harga. Kalau dibanderol terlalu tinggi buat pengalaman tiga jam, reaksi orang-orang bakal pedas. Semoga tim-nya realistis soal ini.

CygamesEdge, Label Baru yang Mau “Stay on the Edge”

Satu hal yang gampang kelewat dari pengumuman ini: Where the Seeds Fall bukan cuma game baru. Ini game pertama dari label baru bernama CygamesEdge, di bawah naungan Cygames, dan dikerjakan bareng studio ZEREO.

Label ini dibikin khusus buat mendukung tim berskala kecil dan menengah, dengan tagline “Stay on the Edge”. Fokus mereka ada di tiga hal: kecepatan dan kelincahan tim kecil, keterbukaan terhadap teknologi dan metode produksi baru, serta kebebasan dari batasan genre.

Terjemahan bebasnya: Cygames — yang selama ini lebih dikenal lewat gacha dan RPG berskala besar — lagi bikin ruang buat proyek yang lebih eksperimental. Dan kalau Where the Seeds Fall ini jadi kartu perkenalan mereka, gue rasa arahnya udah bener banget.

Jadwal Rilis dan Platform yang Masih Simpang Siur

Ini bagian yang perlu gue tandai dengan jujur, karena informasinya belum sepenuhnya seragam di berbagai sumber.

Tanggal rilis yang paling banyak disebut adalah 5 November 2026, dengan versi PS5 yang sudah dikonfirmasi. Namun ada juga laporan yang menyebut tanggal 6 November 2026 dengan cakupan platform lebih luas: Nintendo Switch 2, PS5, dan PC.

Sementara itu, halaman Steam game ini sudah muncul dengan status “Coming Soon” dan keterangan rilis November 2026, yang setidaknya memperkuat kemungkinan versi PC. Harga sendiri masih TBA.

Karena itu, saran NgabQuest: anggap 5 November sebagai patokan sementara buat PS5, dan tunggu konfirmasi resmi lanjutan buat platform lain. Kalau ada update, kami bakal perbarui artikel ini.

Kenapa Gue Bakal Nungguin Game Ini

Gue nggak akan pura-pura objektif di paragraf ini, jadi anggap aja ini catatan pribadi.

Yang bikin Where the Seeds Fall menarik buat gue bukan cuma gimmick “turun, bukan naik”. Tapi cara gimmick itu nyambung sama ceritanya. Lo main sebagai orang yang lagi berduka, membawa seseorang yang ditolak dunia, turun ke tempat yang semua orang bilang udah mati. Setiap lompatan ke bawah itu secara harfiah tindakan percaya — lo lempar benih, lo berharap dia mekar, lo lompat.

Metafora-nya nggak halus, tapi gue nggak butuh halus. Gue butuh yang kena.

Tentu masih banyak yang belum kelihatan. Kita belum tau seberapa murah hati sistem checkpoint-nya, seberapa dalam sistem penilaian level-nya, atau apakah tiga jam itu terasa cukup atau justru kurang. Kontrol pun belum bisa dinilai dari trailer doang, padahal di game presisi kayak gini, feel kontrol adalah segalanya.

Meskipun begitu, we are so back untuk kategori game pendek, aneh, dan penuh niat. Dan gue bakal ada di sana tanggal 5 November, jari gemetaran, siap lempar benih ke jurang sambil berharap yang terbaik.

Baca juga