Rilisan Baru

Rhapsody in Scarlet: Game Aksi Sihir Konami di New York

Oleh 7 menit baca

ngabquestOke, gue butuh semua orang duduk dulu sebentar. Karena gue baru aja nonton trailer Rhapsody in Scarlet dan gue literally shaking. Konami — iya, Konami yang selama satu dekade lebih kita tuduh cuma peduli sama pachinko — barusan ngeluarin game aksi tentang penyanyi jazz yang manggil monster raksasa di tengah jalanan New York tahun 1920-an. No cap. Itu premisnya. Gue nggak ngarang.

Reveal-nya nongol di State of Play tanggal 3 September 2026, terus dilanjutin lagi di showcase Konami Press Start beberapa jam setelahnya. Dan lucunya, di detik-detik awal trailer, banyak banget orang di timeline yang ngira ini trailer baru Stranger than Heaven punya SEGA. Vibe-nya emang mirip: jas, cerutu, kota tua, saksofon. Tapi begitu Ellie mulai nyanyi dan langit New York robek jadi merah, semua orang langsung sadar: ini binatang yang beda sama sekali.

ngabquest ~ Rhapsody in Scarlet Gameplay

Konami lagi bener-bener on fire dan gue nggak siap

Yang bikin gue paling seneng dari momen ini bukan cuma game-nya, tapi apa yang dia representasiin. Selama ini Konami balik ke industri dengan cara yang aman: remaster Suikoden, Silent Hill, Castlevania, Metal Gear. Semua franchise yang udah dijamin bakal laku. Aman, tapi ya… membosankan.

Sementara itu, Rhapsody in Scarlet adalah IP yang benar-benar baru. Nggak ada bagasi nostalgia, nggak ada fanbase yang harus disenengin, nggak ada tuntutan “harus setia sama versi PS1”. Konami cuma bilang “kita mau bikin game tentang sihir dan jazz di era Prohibition” dan somehow ada yang approve. We are so back, guys. Beneran.

Jujur, ini tipe pengumuman yang bikin gue optimis sama arah publisher-nya. Karena portfolio yang sehat itu bukan cuma remaster, tapi juga keberanian buat ngelempar sesuatu yang belum pernah ada.

Ellie Myers: datang buat nyanyi, malah jadi mesin perang

Protagonis kita namanya Ellie Myers, seorang magus muda yang pindah ke New York dengan satu mimpi sederhana: jadi penyanyi jazz. Relatable, wholesome, manis banget. Sayangnya semesta punya rencana lain, karena sebuah insiden nyeret dia masuk ke konspirasi yang melibatkan organisasi mafia yang… yah, katakanlah bukan mafia biasa.

Di dunia ini, ada konflik tersembunyi yang berlangsung di antara orang-orang yang mempraktikkan sihir secara diam-diam. Ellie kebetulan salah satunya. Dan begitu dia keseret, dia nggak bertarung sendirian — ada Sköll, beast companion-nya, plus makhluk lain kayak Balhut dan Thunderbird yang keliatan di footage.

Karakter Ellie ini, gue harus bilang, langsung nge-klik buat gue. Dia digambarin sebagai orang yang menempatkan kebebasan di atas segalanya dan nolak diatur sama aturan atau otoritas manapun. She’s messy, she’s loud, dan dia jelas bakal bikin masalah. My beloved, seriously.

Untuk suaranya, Konami udah ngonfirmasi Cherami Leigh buat versi Inggris dan Akari Kito buat versi Jepang. Dua-duanya casting yang sangat, sangat serius.

Ilya Jones dan dinamika “freedom vs order” favorit gue

Di sisi berlawanan ada Ilya Jones, pemimpin muda organisasi magus bernama the Seekers. Dia dibesarkan sama ayahnya, Harold, yang merupakan kepala dari Sorcellerie Quarter — distrik sihirnya kota ini.

Kalau Ellie itu chaos, Ilya adalah keteraturan. Dia percaya pada aturan, struktur, dan tatanan. Jadi tentu aja mereka berdua bentrok terus di awal. Namun, seiring mereka dipaksa bertarung bareng, ikatan mereka makin dalam sampai akhirnya berdiri di depan takdir yang mengancam keseimbangan dunia.

Gue tahu, gue tahu — trope ini udah dipakai seribu kali. Tapi dengar dulu: trope ini dipakai seribu kali karena dia works. Dan dengan setting Prohibition-era di mana batas antara “hukum” dan “kejahatan” emang lagi kabur-kaburnya, konflik ideologi kayak gini punya ruang buat jadi sesuatu yang beneran berbobot. Ilya diisi suaranya sama Hannah Grace (Inggris) dan Saori Onishi (Jepang).

Sistem kombatnya sengaja ninggalin senjata

Nah, ini bagian yang bikin gue paling penasaran secara mekanik. Co-producer Takanori Murayama ngejelasin kalau tim sengaja mau kabur dari formula game aksi kebanyakan, yaitu pertarungan jarak dekat berbasis senjata. Nggak ada pedang, nggak ada glaive, nggak ada katana. Sebagai gantinya, semuanya dibangun di atas combo yang bisa dikustomisasi habis-habisan.

Konkretnya, kamu bakal ngerangkai serangan jarak dekat, kemampuan jarak jauh, sihir area-of-effect, dan teknik beast jadi satu rangkaian. Kamu bisa gonta-ganti antar mode tergantung situasi di lapangan. Ellie nyalurin kekuatan beast dan magick jadi serangan gabungan bareng Sköll, dan Konami secara terbuka bilang kalau daya tarik utama game ini adalah proses nemuin combo yang cocok sama playstyle kamu, lalu ngadaptasinya buat musuh yang beda-beda.

Dari trailer, serangannya gede-gede banget sampai nutupin layar. Vibe-nya jujur kayak game PS2 era keemasan yang dikasih budget 2026 — dan itu pujian tertinggi yang bisa gue kasih.

Risetnya nggak main-main, dan itu keliatan

Ini bagian yang bikin gue respect. Setting 1920-an di sini bukan sekadar wallpaper estetik. Konami bilang mereka ngelakuin riset lapangan dan ngumpulin referensi historis buat arsitektur, fashion, mobil, sampai speakeasy era Prohibition.

Lebih jauh lagi, mereka juga ngangkat tekstur sosial zaman itu: penyebaran mobil dan radio yang lagi meledak, plus kehadiran perempuan yang makin kuat di ruang publik. Baru di atas fondasi itu semua mereka numpuk lapisan fantasinya — Beast, sihir, dan distrik magis.

Jadi ini bukan “fantasy generik yang kebetulan pakai baju 20-an”. Ini kota yang dibangun dulu, baru dikasih sihir. Perbedaannya kelihatan banget di trailer, dan gue down bad buat art direction-nya.

Jazz-nya beneran, bukan tempelan Spotify playlist

Kalau lo pikir “jazz” di sini cuma bumbu marketing, tenang dulu. Soundtrack-nya dibangun di atas jazz yang terinspirasi bunyi-bunyian 1920-an, dan theme song-nya digarap sama SOIL & “PIMP” SESSIONS bareng singer-songwriter Emi Meyer.

Buat yang belum kenal, SOIL & “PIMP” SESSIONS itu bukan band jazz kalem yang cocok buat kafe. Mereka agresif, liar, dan sering disebut “death jazz”. Masukin mereka ke game tentang sihir yang meledak-ledak? Chef’s kiss. Gue udah siap beli OST-nya duluan sebelum game-nya rilis.

Platform dan tanggal rilis: masih gelap

Ini bagian yang kurang enaknya. Pengumumannya awalnya di-frame sebagai eksklusif PlayStation 5 lewat PlayStation Blog, tapi Konami langsung mengonfirmasi kalau Rhapsody in Scarlet juga bakal mendarat di Xbox Series X|S dan PC lewat Steam.

Sayangnya, belum ada window rilis sama sekali. Nggak ada tahun, nggak ada kuartal, nggak ada apa-apa. Yang bisa lo lakuin sekarang cuma wishlist di PlayStation Store. Melihat betapa awalnya reveal ini terasa, gue nggak akan kaget kalau kita baru main game ini di 2028.

Konami Press Start juga bawa banyak barang lain

Buat konteks, Rhapsody in Scarlet bukan satu-satunya kejutan hari itu. Konami juga ngumumin PROJECT ZIRCON, roguelike deck-building yang nggabungin strategi kartu sama manajemen negara, plus KONAMI Wai Wai World Craft yang ngasih pemain kebebasan bikin, ngustom, dan berbagi game mereka sendiri.

Selain itu, ada update buat SILENT HILL: Townfall yang rilis 24 September, Castlevania: Belmont’s Curse yang meluncur 15 Oktober, Rev. NOiR yang dikonfirmasi tayang 2027 di PS5, Xbox Series X|S, dan Steam, serta mode League baru buat eFootball Kick-Off!.

Intinya, showcase ini nggak dibangun di sekitar satu pengumuman raksasa. Sebaliknya, Konami lagi nyebar taruhan ke banyak genre sekaligus — dan menurut tim NgabQuest, itu strategi yang jauh lebih sehat untuk jangka panjang.

Yang bikin gue sedikit was-was

Sekarang bagian nggak enaknya, karena gue nggak mau jadi fanboy yang buta. Pertama, semua yang kita lihat masih trailer. Nggak ada satu pun gameplay mentah yang benar-benar unedited, dan game aksi itu berdiri atau jatuh di feel — sesuatu yang nggak bisa dinilai dari cinematic.

Kedua, sistem combo yang “sangat bisa dikustomisasi” itu pedang bermata dua. Kalau eksekusinya rapi, ini bisa jadi game aksi terbaik Konami dalam dua dekade. Kalau nggak, dia bakal berakhir jadi tumpukan menu yang ribet tanpa kedalaman yang beneran.

Ketiga, ketiadaan tanggal rilis. Reveal super awal kayak gini sering banget berujung development hell. Semoga aja nggak.

Jadi, Layak Ditunggu Nggak?

Jawaban gue: iya, banget. Rhapsody in Scarlet adalah tipe game yang seharusnya lebih sering ada — konsep aneh, setting yang belum kepakai, dan publisher besar yang mau ngambil risiko. Apakah eksekusinya bakal sebagus konsepnya? Belum ada yang tahu.

Tapi buat sekarang, gue dengan senang hati bakal duduk di sudut ruangan sambil dengerin theme song-nya berulang-ulang dan ngitung hari sampai Konami akhirnya nunjukin gameplay beneran. Wishlist dulu, sisanya urusan nanti.

Baca juga