Black Flag Resynced: Remake Bajak Laut yang Bikin Gue Bucin dan Kesel Sekaligus
ngabquest — Oke, gue harus ngaku dulu sebelum mulai: Edward Kenway adalah my beloved. Sejak 2013, bajingan asal Wales dengan senyum tengil ini udah numpang tinggal di kepala gue rent-free. Jadi waktu Ubisoft resmi ngumumin Assassin’s Creed Black Flag Resynced, gue literally shaking. Setengah excited, setengah takut. Soalnya remake itu kayak ngajak mantan balikan: bisa manis banget, bisa juga ngingetin kenapa dulu putus.
Nah, setelah game ini rilis 9 Juli 2026 di PS5, Xbox Series X|S, dan PC, jawabannya ternyata… ribet. Resynced adalah game yang bagus, no cap. Akan tetapi, dia juga remake yang tiap kali selesai benerin satu hal, malah nyenggol hal lain sampai jatuh. Skor agregatnya di Metacritic ada di kisaran 83 untuk versi PS5. Respectable, tapi jelas bukan standing ovation.

ngabquest ~ Assassin’s Creed Black Flag Resynced Review
Bukan RPG, dan Itu Justru Kabar Baik
Hal pertama yang bikin gue lega: Resynced bukan RPG. Nggak ada tumpukan loot, nggak ada skill tree bercabang kayak akar beringin, dan nggak ada musuh level 40 yang maksa lo grinding. Ubisoft Singapore membangun ulang game ini pakai engine Anvil yang sama dengan Shadows, tetapi strukturnya tetap action-adventure klasik. Upgrade? Masih lewat berburu hewan dan ngerampok kapal, persis kayak dulu.
Hasilnya, campaign-nya kerasa ramping. Main story plus sebagian side content bisa kelar di kisaran 30 sampai 40 jam. Untuk standar open world Ubisoft modern, itu praktis speedrun. Karena itu, pacing ceritanya jadi enak. Lo nggak bakal lupa siapa Charles Vane cuma gara-gara kelamaan ngurusin inventory.
Selain itu, kontrolnya jauh lebih mulus. Balik ke Black Flag versi original sekarang rasanya kayak nyetir gerobak sapi. Sebaliknya, di Resynced, lari di atap Nassau, manjat pohon kelapa, sampai duel pedang semuanya responsif. Combat-nya kini berbasis parry: timing pas bikin pertahanan musuh kebuka, lalu lo hajar habis-habisan.
Walaupun begitu, ini tetap Assassin’s Creed. Jadi, siap-siap aja Edward kadang lompat ke arah yang sama sekali nggak lo minta. Classic.
Modern Day Dihapus, dan Gue Belum Move On
Di sinilah gue mulai down bad dalam arti yang buruk. Segmen modern day dari game aslinya, tempat lo jadi karyawan Abstergo yang mengorek memori Edward demi mencari Observatory, dihapus total. Framing “perburuan harta karun sci-fi” yang dulu bikin kisah Edward punya bobot ekstra pun ikut lenyap.
Sebagai gantinya, Resynced sekarang nyambung ke arc Shadows. Ada AI buatan Templar bernama Ego yang pengin “merapikan” sejarah supaya manusia jadi penurut. Lewat rift tersembunyi, lo bisa lihat versi alternatif di mana Edward pulang ke istrinya, Blackbeard menerima pengampunan raja, dan Mary Read keluar dari Brotherhood. Semuanya hidup bahagia kayak domba yang nurut. Jujur? Konsepnya keren parah.
Sayangnya, semua itu opsional. Lebih parah lagi, rift-nya nggak ditandai di map. Kalau lo nggak sengaja nyari, lo nggak bakal nemu. Kalaupun nemu, lo tetap butuh konteks dari Shadows biar paham siapa Ego sebenarnya.
Akibatnya, buat pemain yang cuma ngikutin main story, perjalanan Edward terasa lebih ngebut dan sedikit kurang megah, karena nggak ada lagi jeda antar-babak. It’s so over buat tim modern day. RIP.
Anne Bonny Akhirnya Dapat Panggung yang Layak
Tapi tunggu dulu, we are so back. Salah satu perubahan terbaik Resynced justru ada di cara dia memperlakukan side character. Anne Bonny, yang di game original baru relevan menjelang akhir, sekarang muncul sejak Edward pertama kali balik ke Nassau. Dia dapat cutscene baru dan misi baru, sehingga hubungannya dengan Edward terasa earned. Begitu momen emosional di chapter akhir datang, rasanya kayak ditonjok pakai perasaan.
Blackbeard dan Stede Bonnet juga kebagian perpanjangan cerita. Bahkan ada epilog baru yang menutup kisah Blackbeard dengan lebih memuaskan. Gue nangis? Nggak. Mata gue cuma kemasukan air laut Karibia.
Di samping itu, Jackdaw kini punya officer baru dengan questline masing-masing:
- Lucy Baldwin (Shipwright) membuka Perfect Brace, yang memangkas damage ke kapal kalau lo menahan serangan di momen yang pas.
- Padre (Master-at-arms), mantan bajak laut yang tobat, memberi Ram Dash untuk menyeruduk kapal musuh.
- Tobias “Deadman” Smith (Weaponmaster) baru terbuka di endgame, lalu memberi Extra Salvo dan mode mortar beruntun.
Ironisnya, tokoh-tokoh baru ini justru kebagian screen time tipis dan ending arc yang kurang nendang. Padahal Resynced baru aja membereskan masalah serupa pada karakter lama.
Laut Tetap Jadi Bintang Utama
Kalau ada satu hal yang Ubisoft nggak berani ubah banyak, itu naval gameplay. Keputusan itu benar banget. Berlayar dengan Jackdaw masih jadi pengalaman paling membebaskan di seluruh franchise. Tambahannya memang kecil, tapi berasa: swivel gun sekarang harus dibidik ke titik lemah, meriam punya mode tembak sekunder, dan cuaca makin brutal dengan waterspout serta badai yang lebih besar.
Secara visual, game ini gila. Ada raytracing, air laut yang jernih sampai ubur-ubur kelihatan, dan sunset yang bikin lo buka photo mode tiap lima menit. Di PS5 Pro, mode performanya berjalan di sekitar 60fps dan tetap tampil sebagai salah satu open world tercantik tahun ini.
Sebagai bonus, ada sea shanty baru, pet untuk Jackdaw, fast travel langsung ke kapal, serta manajemen armada yang nggak lagi butuh aplikasi HP. Thank god.
Tapi, Ada Harga yang Harus Dibayar
Oke, waktunya objektif. Pertama, misi tailing yang dulu nyebelin sekarang dibuang atau dilonggarkan. Kedengarannya bagus, kan? Masalahnya, social stealth dan kemampuan crouch di mana saja jadi jarang kepakai, karena misi yang butuh mekanik itu ikut menghilang. Alhasil, banyak misi berubah jadi pertarungan terbuka yang itu-itu lagi, apalagi variasi musuhnya minim.
Kedua, cutscene baru punya animasi wajah yang kaku kayak boneka kayu. Beberapa adegan lama malah terasa lebih jelek, karena ekspresi halus yang dulu jadi nyawa cerita kadang nge-glitch.
Ketiga, side activity seperti berburu paus, kontrak pembunuhan, dan diving cepat banget jadi repetitif. Terakhir, kamera saat chain kill di ruang sempit, misalnya dek kapal kecil atau gua, sering bikin lo kehilangan jejak musuh.
Tips Biar Lo Nggak Karam di Jam-Jam Awal
- Fokus main story dulu sampai dapat blowdart, karena gear penting terbuka sepanjang cerita.
- Manfaatkan tombol crouch. Lo nggak perlu nyari semak lagi.
- Ambil kontrak pembunuhan (ikon tengkorak putih) untuk duit cepat, sebab koin di awal langka.
- Upgrade holster dan health secepatnya. Punya empat pistol itu game changer.
- Tukar tulang hasil berburu di general store untuk membeli bahan hewan yang susah dicari.
- Jangan langsung menenggelamkan kapal yang sudah lumpuh. Sisakan sebagai “pit stop” reparasi lewat boarding.
- Sebelum boarding, bersihkan dek pakai swivel gun, lalu ayun tali dan air assassinate kapten atau brute.
- Upgrade mortar dan pakai sesering mungkin, terutama saat menyerang benteng.
- Isi ulang oksigen di diving bell, lalu simpan barel udara untuk keadaan darurat.
- Isi armada dengan schooner dan brig demi trade route dan misi bonus.
- Kotak biru berisi ransum penyembuh, dan selalu roll saat mendarat dari ketinggian.
Jadi, Worth Berlayar Lagi?
Buat lo yang belum pernah main Black Flag, ini jelas cara terbaik menikmatinya. Ceritanya tetap salah satu yang terkuat di seri ini, lautnya indah, dan naval combat-nya masih nggak ada tandingan.
Sebaliknya, buat veteran kayak gue, Resynced lebih terasa seperti versi dunia paralel dari game yang kita cintai. Lebih cantik, lebih mulus, dan lebih sayang ke Anne Bonny, tapi juga kehilangan sebagian jiwanya. Tetap saja, gue bakal balik lagi ke Karibia. Karena pada akhirnya, Edward Kenway tetap my beloved, jank dan segalanya.
