Cara Main (Pemula)

WoW Forever Bikin Gue Pengin Balik ke Azeroth dan Nggak Pulang Lagi

Oleh 7 menit baca

ngabquestOke. Tarik napas dulu. Blizzard membuka BlizzCon 2026 dengan pengumuman yang bikin satu internet teriak barengan: World of Warcraft: Forever. Yep, Classic+ yang sudah dirumorkan bertahun-tahun, yang dulu cuma jadi bahan halu di subreddit, sekarang beneran jadi game sendiri. Rilisnya 4 November 2026 di PC. I am literally shaking.

Buat yang belum ngeh, WoW Forever pada dasarnya adalah Azeroth versi vanilla yang “dibekukan” di era 2004, tapi kemudian dikembangkan ke arah yang sama sekali baru. Levelnya tetap mentok di 60, tapi isinya dijejali konten baru. Jadi ini bukan sekadar nostalgia replay dungeon yang sama untuk kesekian kalinya. Ini alternate universe. Dan jujur, gue down bad banget sama konsep itu.

ngabquest ~ World of Warcraft: Forever Review

Apa Itu WoW Forever dan Kenapa Beda dari Classic Biasa?

Kalau kalian sempat main Season of Discovery, bayangin mode itu dijadikan game utuh yang nggak punya tanggal kedaluwarsa. Selama ini, masalah terbesar main Classic adalah rasa was-was: “Karakter gue nanti nasibnya gimana pas season-nya habis?” Nah, tim developer menjawab kegelisahan itu lewat nama “Forever” sendiri.

Menurut lead designer Tim Jones, nama tersebut adalah janji bahwa ini ruang aman buat investasi waktu. Level cap tetap 60, lalu konten akan terus ditambah secara horizontal, bukan vertikal. Selain itu, ada sistem Legacy yang mendorong kalian bikin alt karena progres tertentu bisa dibagi antarkarakter. Dengan kata lain, jam main kalian nggak bakal hangus begitu saja.

Karena itu, banyak yang menyebut WoW Forever sebagai “pilar ketiga” World of Warcraft, sejajar dengan retail (yang sekarang ada di era Midnight) dan Classic. Blizzard bahkan terang-terangan bilang mereka nggak butuh World of Warcraft 2, karena Forever sudah mengisi ruang itu.

Konten Barunya Bikin Gue Kehabisan Kata

Sekarang bagian yang bikin gue teriak ke bantal. Blizzard menambahkan lebih dari 1.000 quest baru yang tersebar di seluruh rentang level 1 sampai 60. Kemudian ada 9 dungeon tambahan, raid untuk 10 dan 20 pemain, serta tiga zona baru: Mount Hyjal, Zephras Isle, dan The Riverglades. Mount Hyjal, guys. MOUNT HYJAL. Zona yang dulu cuma bisa kita intip lewat glitch sekarang beneran jadi tempat bertualang.

Di sisi lain, kombinasi ras dan class juga diperluas. Undead Paladin (yes, sungguhan), Gnome Priest, Human Hunter, Dwarf Shaman, Orc Mage, sampai Troll Warlock sekarang bisa dipilih. Racial ability juga direvisi supaya identitas tiap ras lebih terasa. Misalnya, Tauren dapat passive Plainsrunner, skill beta lama yang nggak pernah masuk retail, yang bikin mereka lari sedikit lebih cepat.

Secara visual, engine-nya kebagian upgrade serius. Ada global illumination baru, efek partikel volumetrik, renderer air baru, dan bayangan real-time. Hasilnya aneh dalam arti yang bagus: tekstur lumpur khas 2004 masih ada, tapi cahayanya sekarang terasa hidup. Buat yang lebih suka tampilan jadul murni, tersedia toggle karakter SD/HD. No cap, ini fitur kecil yang sangat dihargai.

Skyborne, Ras Baru yang Cantik tapi Bikin Dompet Menjerit

Ras baru bernama Skyborne adalah elf netral berkulit biru dengan starting zone penuh reruntuhan dan hembusan angin. Mereka bisa gabung ke Horde atau Alliance. Uniknya, Skyborne Horde bisa jadi Shaman, sedangkan Skyborne Alliance bisa jadi Mage. Kedua sisi juga bisa memilih Warrior, Hunter, Rogue, atau Druid.

Racial mereka juga lucu. Salah satunya berupa levitasi untuk memperlambat jatuh, dan quest tutorialnya literally menyuruh kalian loncat dari menara tinggi lalu selamat pakai skill itu. Iconic.

Namun, ada masalahnya. Skyborne dikunci di balik pembelian seharga $30. Komunitas jelas nggak senang, dan wajar saja. Ketika ditanya soal kemungkinan konten gameplay lain yang bakal berbayar ke depannya, developer menolak berkomentar karena urusan monetisasi bukan wewenang mereka. Di satu sisi, itu jawaban yang fair. Di sisi lain, tetap bikin was-was. Kabar baiknya, Blizzard menyebut belum ada rencana menghadirkan WoW Token atau level boost di Forever.

The Drowned City: Dungeon yang Nggak Kenal Ampun

Dari laporan hands-on di BlizzCon, dungeon The Drowned City jadi bintang utamanya. Bagian awalnya mirip Zul’Farrak yang digeser sedikit, tapi makin ke dalam makin aneh: ada lorong yang sepenuhnya terendam air, musuh berupa Naga dan Murloc, serta ukuran yang disebut-sebut lebih masif dari Zul’Gurub.

Pertarungannya brutal ala Classic. Bukan karena mekaniknya ribet, melainkan karena manajemen mana dan threat benar-benar menentukan. Tim media yang mencoba cuma berhasil mengalahkan satu dari delapan atau sembilan boss dalam batas waktu. Salah satu bossnya punya enrage di 50% HP yang memulihkan darahnya terus-menerus kalau party kelamaan. Solusinya? Menyebar, bukan numpuk kayak kebiasaan main retail.

Belum lagi ada hiu level 45 di tengah halaman terbuka yang dengan senang hati mengunyah tank kalian dalam dua gigitan. Tanpa peta dungeon bawaan, setiap sudut terasa seperti rahasia. It’s so over for my free time.

Hal-hal yang Bikin Gue Sedikit Kecewa

Sebagai fan yang objektif (sebisanya), ada beberapa keputusan desain yang patut dikritik. Pertama, rune dari Season of Discovery tidak kembali. Artinya, nggak ada Shaman tank atau Mage healer saat rilis. Tim developer bilang mereka ingin kembali ke kesederhanaan yang lebih dekat dengan Classic, walau pintu diskusi dengan pemain tetap dibuka. Sebagai orang yang cinta Shaman tank, this hurts.

Kedua, tidak ada flex raiding. Setiap tier raid dijamin punya minimal satu opsi 10 pemain dan satu opsi 20 pemain, kadang ditambah raid 40 orang. Masalahnya, guild dengan jumlah anggota yang naik-turun (misalnya 15 sampai 25 orang dewasa yang sibuk) bakal kesulitan cari angka pas.

Selain itu, beberapa friksi sengaja dipertahankan. Meeting Stone di depan dungeon tidak bisa lagi dipakai untuk summon, jadi kalian tetap butuh Warlock atau harus jalan kaki bareng. Biaya mount juga dipindah ke training riding, sehingga gold tetap harus dikumpulkan. Sementara itu, add-on akan dibatasi mirip retail, terutama yang mengotomatiskan perhitungan saat combat. Fitur one-button rotation juga tidak ikut dibawa.

Untungnya, ada juga kemudahan modern: gabungan tas, kustomisasi UI, damage meter bawaan, koordinat peta, tracker diminishing return, transmog yang bisa dimatikan, dukungan controller bawaan, serta fitur Looking for Group berupa papan listing (tanpa matchmaking otomatis).

PvP, Legacy, dan Beta yang Langsung Jebol

Pemain PvP juga kebagian jatah. Ada sistem honor dengan rank sampai 14 dalam satu siklus patch, lengkap dengan hadiah kosmetik dan armor PvP ber-stat. Battleground baru bernama Darkspear Islands hadir dengan format 15v15, menggabungkan gaya Eye of the Storm dan Arathi Basin.

Beta WoW Forever dibuka 17 September dan, sesuai tradisi WoW yang sakral, langsung dihajar antrean panjang dan disconnect. Associate production director Clayton Stone menyebut jumlah pemain yang menggedor pintu beta itu “insane”. Tentu saja semua orang sudah bikin lelucon bahwa masuknya butuh waktu “forever”. We are so back, beserta antreannya.

Tips Pemula Sebelum Terjun ke WoW Forever

Kalau ini pengalaman pertama kalian di WoW gaya klasik, ada beberapa hal yang wajib dipahami. Forever memakai struktur realmless, jadi kalian memilih ruleset, bukan server. Pilihannya ada empat: Normal, PvP, Roleplaying, dan Hardcore. Pemain beda ruleset tidak bisa grup bareng, begitu juga Horde dan Alliance. Karena itu, sepakati faction dan ruleset dengan teman sebelum bikin karakter utama.

Berikut beberapa tips lain yang NgabQuest rangkum:

  • Jangan pull musuh sembarangan. Satu musuh biasa bisa butuh 10 sampai 15 detik untuk dikalahkan. Tarik tiga sekaligus ala retail dan kalian bakal rebahan di graveyard.
  • Pelajari crowd control. Polymorph, Fear, Banish, dan Root sangat berguna saat tank belum bisa menahan semua musuh.
  • Hormati threat. Tunggu tank mengunci aggro sebelum mengeluarkan damage terbesar.
  • Mulai profession sejak awal. Ada lebih dari 600 resep baru, blueprint dari boss dungeon, dan semuanya terhubung ke sistem Camping.
  • Manfaatkan Camping. Api unggun buatan pemain bisa menyediakan repair, vendor, dan buff sementara. Mampir saja kalau lihat kemah pemain lain.
  • Hemat gold. Jangan habiskan uang untuk upgrade kecil, karena training riding dan kebutuhan lain menunggu.
  • Jangan buru-buru ke level 60. Tanpa level scaling dan tanpa flying mount, perjalanannya memang bagian utama dari game ini.

Terakhir, ngobrol dan grup dengan pemain lain. Developer sengaja mempertahankan jeda sebelum dungeon supaya ada momen sosial. Orang yang menyelamatkan kalian di level 18 bisa jadi teman raid kalian di level 60.

Jadi, WoW Forever Worth Ditunggu Nggak?

Jawaban singkat gue: iya, banget. WoW Forever bukan versi sempurna dari World of Warcraft. Harga Skyborne terasa pelit, rune SoD yang hilang bikin sedih, dan ketiadaan flex raid bakal menyulitkan banyak guild. Meski begitu, gabungan dunia lama yang lambat, berbahaya, dan misterius dengan sentuhan modern yang tepat terasa paling dekat dengan cara banyak orang ingin menikmati Azeroth.

Pelan, sering mati, sering terkejut, dan kali ini dengan janji bahwa karakter kalian nggak akan jadi sia-sia. Sampai jumpa di antrean login tanggal 4 November. Bawa camilan, soalnya bakal lama.

Baca juga