Rilisan Baru

Trailer Kedua Rev NOiR Ungkap Gameplay dan Rilis 2027

Oleh 6 menit baca

ngabquestOke, gue butuh semua orang duduk dulu sebentar. Tarik napas. Karena setelah tujuh bulan penuh gue mantengin teaser Februari kayak orang yang lagi nunggu balesan chat dari gebetan, Konami akhirnya ngasih kita sesuatu yang nyata. Trailer kedua Rev NOiR resmi turun di State of Play, dan bukan cuma nunjukin muka doang — ini nunjukin combat, nunjukin party, nunjukin dunia, dan yang paling penting: nunjukin kapan kita bisa mainin barangnya. Jawabannya 2027. Jauh? Iya. Apakah gue tetap literally shaking? Also iya.

Buat lo yang belum ngikutin, Rev NOiR adalah JRPG orisinal — bukan remaster, bukan reboot, bukan Metal Gear yang dipoles ulang — yang digarap Konami bareng ILCA. Ya, ILCA yang itu, studio yang pernah nyentuh Dragon Quest XI dan One Piece Odyssey. Produsernya Nobuki Kadoi, eks Square Enix yang punya jejak di Drakengard 2 dan Gunslinger Stratos. Dengan kata lain, ini bukan proyek iseng. Ini Konami yang bilang “we are so back” sambil naruh chip-nya di meja genre yang mereka tinggalin lama banget.

ngabquest ~ Rev NOiR

Lightfall: Hujan Emas yang Bunuh Semua yang Disentuh

Premis dunianya, jujur aja, brutal dengan cara yang elegan. Ada fenomena bernama lightfall — hujan cahaya keemasan yang turun dari langit dan membunuh apa pun yang tersentuh. Namanya cantik. Visualnya cantik. Efeknya? Mati. Gue suka banget sama trik desain kayak gini, di mana hal paling indah di layar adalah hal yang paling pengin lo hindarin.

Tapi bagian yang bikin gue beneran duduk tegak adalah struktur sosial dunianya. Manusia di sini hidup berdasarkan Astral Ordinance, semacam mandat atau misi seumur hidup yang diberikan oleh makhluk-makhluk raksasa bernama Determinant yang melayang di langit. Orang-orang menerima titah itu, menjalaninya, dan dunia pun damai untuk waktu yang cukup lama. Sampai lightfall datang lagi dan ngancurin semuanya.

Jadi ini bukan sekadar “ada bencana, ayo dihentikan”. Ini soal takdir yang diserahkan dari atas versus kehendak manusia yang tumbuh dari dalam. Konami bahkan udah ngasih tagline baru yang bunyinya kurang lebih: di balik keadilan, kehancuran menanti. Sinis banget. Gue suka. Kalau lo pernah kena emotional damage dari JRPG yang tiba-tiba mempertanyakan apakah tujuan mulia protagonisnya justru bencana itu sendiri, siap-siap aja.

Asch, Finé, Diana, dan Cross — Party yang Bikin Gue Down Bad

Protagonisnya bernama Asch, cowok amnesia yang dipandu Astral Ordinance dengan perintah sederhana tapi mustahil: selamatkan sebanyak mungkin orang. Klasik? Iya. Tapi eksekusinya yang bikin penasaran, karena perjalanan Asch justru soal nyari tahu apa yang sebenarnya pantas dia percayai.

Lalu ada Finé, pendeta muda yang bisa memakai Astral Arts berwarna pelangi, dan dia udah jalan duluan buat menghentikan lightfall sebelum ketemu Asch. Ini yang bikin gue seneng: dia bukan objek misi yang nunggu diselamatin, dia punya misinya sendiri dan Asch yang gabung ke rombongan dia.

Nemenin Finé ada Diana, anggota Holy City Guard yang hormat setengah mati sama Finé dan jelas-jelas rela naruh badannya di depan bahaya demi cewek itu. My beloved bodyguard archetype, no cap. Selain itu, Konami juga ngenalin Cross, seorang gunfighter dari korps vigilante Lizvia yang jadi pemandu grup selama sebagian perjalanan mereka.

Empat karakter, empat alasan berbeda buat jalan bareng, dan satu dunia yang lagi sekarat. Meskipun begitu, Konami masih nahan banyak hal. Trailer ini jelas cuma ngasih lo cukup buat mulai bikin headcanon, belum cukup buat bikin tier list.

Combat-nya Tales-core, Tapi Ada Otaknya

Nah, ini bagian yang selama tujuh bulan paling ditungguin: gameplay. Trailer kedua akhirnya nunjukin sistem pertarungan Rev NOiR, dan kesan pertamanya bakal langsung familier buat siapa pun yang pernah kecanduan seri Tales. Asch bisa gerak bebas di arena, nyambung serangan jadi rantai kombo, dan ngaktifin berbagai skill secara real-time.

Tapi Konami keliatan nggak mau cuma jadi Tales KW. Ada dua sistem yang mereka sebut khusus: Astral Sigils dan Kardieoses, aksi pendukung yang kebuka seiring lo ngembangin karakter. Klaimnya, keputusan pemain di dalam battle bisa beneran ngubah jalannya pertarungan, bukan cuma nambah angka damage. Artinya lo dikasih ruang buat bikin build sendiri, bukan disuruh ngikutin satu set skill fix sampai credits roll.

Musuh-musuhnya juga nggak main-main. Ada desain monster yang grotesque dengan cara yang bikin merinding, plus boss manusia yang lincah dan agresif. Dari klip yang beredar, tempo battle-nya cepat tapi masih kebaca, dan UI-nya — ini penting buat gue — punya rasa stylish khas menu JRPG modern yang enak dilihat berjam-jam.

Sementara itu, catatan NgabQuest soal presentasinya: arah visual anime-nya konsisten dari teaser pertama sampai sekarang, dan itu pertanda bagus. Banyak game yang berubah drastis antara reveal dan gameplay reveal. Rev NOiR nggak.

Tanggal Rilis, Platform, dan Kabar Baik Buat Non-PS5

Waktu pertama diumumkan Februari 2026, Rev NOiR cuma dikonfirmasi buat PlayStation 5. Sekarang statusnya berubah, dan ini kabar bagus banget: game ini bakal meluncur buat PlayStation 5, Xbox Series X|S, dan PC lewat Steam, dengan jendela rilis 2027. Belum ada tanggal pastinya, jadi jangan dulu nabung buat pre-order.

Halaman Steam-nya udah aktif, jadi minimal lo bisa wishlist sekarang dan biarin algoritma yang ngingetin lo nanti. Buat yang penasaran, trailer kedua tersedia dalam versi Inggris dan Jepang, dan gue saranin nonton dua-duanya kalau lo tipe yang peduli sama pilihan voice acting.

Satu tahun lebih memang penantian yang panjang. Namun, kalau ngeliat lompatan kualitas informasi antara teaser Februari dan trailer September ini, gue cukup optimis Konami punya sesuatu yang beneran jalan di belakang layar, bukan cuma sizzle reel.

Hal-hal yang Bikin Gue Masih Nahan Ekspektasi

Gue bakal jujur, karena bucin tanpa kritik itu namanya bukan review, itu namanya iklan.

Pertama, kita belum liat eksplorasi. Sama sekali. Semua yang ditunjukin adalah cutscene dan battle. Dunia JRPG hidup atau mati dari gimana rasanya jalan-jalan di dalamnya, dan soal itu Konami masih tutup mulut rapat-rapat.

Kedua, sistem progresinya masih abstrak. Astral Sigils dan Kardieoses kedengeran keren di press release, tapi “keputusan pemain memengaruhi pertarungan” itu kalimat yang udah dipakai ratusan game dan artinya bisa apa aja, dari sistem yang dalam banget sampai sekadar menu skill biasa.

Ketiga, ini IP baru dari publisher yang belakangan lebih nyaman main aman dengan franchise lama. Bikin JRPG orisinal itu mahal, berisiko, dan gampang banget jadi hambar kalau ambisinya nggak diimbangi budget. Gue pengin banget ini berhasil — justru karena itu gue nggak mau kegeeran duluan.

Yang Perlu Lo Pantau Setelah Ini

Realistisnya, informasi besar berikutnya kemungkinan besar datang di showcase akhir tahun atau State of Play berikutnya. Yang gue harap muncul: klip eksplorasi dunia, penjelasan detail soal sistem Astral Sigils, dan minimal satu nama besar di kursi komposer, karena JRPG tanpa soundtrack yang bikin nangis itu cuma spreadsheet dengan efek partikel.

Untuk sekarang, wishlist Steam-nya, tonton trailer keduanya dua kali, dan sambut kenyataan bahwa Konami lagi serius bikin JRPG lagi. It’s not over. We are, in fact, so back.

Baca juga