By Genre

Resonance: A Plague Tale Legacy Ubah Formula Stealth

Oleh 3 menit baca

ngabquest — Resonance: A Plague Tale Legacy akhirnya resmi rilis pada 27 Agustus lalu. Namun, arah game ini ternyata jauh berbeda dari dua pendahulunya. Asobo Studio memperkenalkan formula baru lewat trailer singkat berdurasi 30 detik yang tayang di Future Games Show, Gamescom. Meskipun singkat, trailer tersebut berhasil menyampaikan banyak informasi penting sekaligus.

ngabquest ~ Resonance: A Plague Tale Legacy Review

Sophia Tampil Beda dari Amicia dan Hugo

Kali ini, sosok Sophia menjadi pusat cerita. Sophia dikenal sebagai smuggler yang membantu Amicia dan Hugo memasuki La Cuna dalam A Plague Tale: Requiem. Berbeda dari Amicia yang lebih mengandalkan taktik menghindar, Sophia hadir sebagai karakter yang jauh lebih tangguh. Ia mampu melakukan parry terhadap serangan musuh. Selain itu, ia juga bisa mengeksekusi finishing move yang mematikan terhadap lawan-lawannya. Perubahan gaya bertarung ini membuat banyak pihak membandingkannya dengan karakter aksi seperti Lara Croft, alih-alih dengan Amicia versi game sebelumnya.

Kisah di Balik Pulau Minotaur

Sebagai prequel, Resonance mengambil latar waktu 15 tahun sebelum peristiwa dalam Requiem, tepatnya pada tahun 1334. Dalam pelarian panjangnya, Sophia berusaha mengungkap rahasia masa lalunya sendiri. Pencarian tersebut kemudian membawanya ke Minotaur’s Island, sebuah wilayah penuh reruntuhan kuno. Di sana, ia harus menghadapi pasukan bergaya Romawi yang terus memburunya. Dengan kata lain, ketegangan dalam game ini tidak lagi datang dari tikus-tikus wabah, melainkan dari kejaran pasukan bersenjata.

Mekanik Dual-Timeline yang Bikin Penasaran

Salah satu fitur paling menarik dari Resonance adalah mekanik dual-timeline. Melalui mekanik ini, pemain dapat berpindah antara era Abad Pertengahan dan zaman Minoan kuno. Setiap tindakan yang dilakukan pada masa lalu akan berdampak langsung pada kondisi masa kini. Oleh karena itu, pemain dituntut untuk berpikir strategis di setiap linimasa. Sebagai tambahan, Asobo juga sempat menyinggung soal “makhluk mengerikan di balik mitos” yang nantinya akan ber-resonansi dengan pemain. Petunjuk ini sekaligus memperkuat relevansi judul game dengan alur ceritanya.

Ulasan Kritikus: Solid tapi Kehilangan Ciri Khas

Setelah rilis, sejumlah ulasan mulai bermunculan dan menyoroti satu pola yang sama. Rock Paper Shotgun, misalnya, menyebut Resonance sebagai spinoff aksi yang kompeten. Akan tetapi, mereka juga menilai game ini kehilangan unsur yang dulu membuat seri A Plague Tale terasa unik. Dua game sebelumnya dikenal lewat ketegangan berbasis stealth. Pemain harus mengandalkan strategi diam-diam demi bertahan hidup dengan sumber daya seadanya. Kerapuhan karakter justru menjadi kekuatan utama narasi pada waktu itu.

Sebaliknya, Sophia hadir sebagai karakter yang jauh lebih kuat sejak awal permainan. David Dedeine, Chief Creative Officer Asobo, menjelaskan bahwa perubahan ini disengaja. Menurutnya, tim ingin “menjaga kesegaran” setelah tujuh tahun berkutat dengan karakter yang sama. Meskipun demikian, pendekatan combat yang lebih intuitif ini membuat nuansa desperate khas seri sebelumnya memudar. Dengan demikian, sensasi emosional yang dulu menjadi identitas franchise kini terasa berkurang.

Layak Dilirik atau Tidak?

Secara keseluruhan, Resonance: A Plague Tale Legacy tetap menawarkan pengalaman action-adventure yang solid dan menghibur. Game ini cocok bagi pemain yang penasaran dengan asal-usul Sophia sekaligus ingin mencoba gameplay combat yang lebih dinamis. Namun, bagi penggemar yang merindukan ketegangan stealth ala Innocence dan Requiem, ekspektasi perlu disesuaikan terlebih dahulu. Pada akhirnya, Resonance membuktikan bahwa Asobo Studio berani mengambil arah baru, meski risikonya adalah kehilangan sebagian identitas yang membesarkan nama seri ini.

Baca juga