By Genre

Review Zombie Army 4: Dead War, Masih Layak Dimainkan?

Oleh 9 menit baca

ngabquestSebelum masuk ke review Zombie Army 4 ini, gue mau ngaku dosa dulu: gue punya kelemahan fatal sama game yang ngebolehin gue nembak “aset berharga” zombie Nazi pakai kamera slow-motion X-ray. Iya, lo nggak salah baca. Dan Zombie Army 4: Dead War adalah game yang paham banget kelemahan itu, lalu mengeksploitasinya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Game buatan Rebellion ini pertama kali rilis 4 Februari 2020 di PC, PS4, dan Xbox One. Setelah itu, game ini nyusul ke Stadia pada Mei 2020 dan akhirnya mendarat di Nintendo Switch pada April 2022. Secara silsilah, Zombie Army 4 adalah sekuel dari Zombie Army Trilogy (2015) sekaligus spin-off dari seri Sniper Elite.

Nah, pertanyaan besarnya: bertahun-tahun setelah rilis, dan dengan Zombie Army 5 yang masih entah di mana, apakah game ini masih worth dimainkan? Short answer: we are so back. Long answer? Yuk, bedah bareng.

ngabquest ~ Zombie Army 4 Review

Ceritanya Absurd, dan Justru Itu Pesonanya

Latarnya tahun 1946. Setahun sebelumnya, Hitler berhasil dikalahkan dan dibuang ke neraka. Masalahnya, pasukan mayat hidupnya nggak ikut pensiun. Sebaliknya, gerombolan zombie terus mendesak pasukan Sekutu mundur, sementara beredar rumor soal sekte misterius yang bikin para zombie ini tetap “terorganisir”.

Petualangan dimulai di Milan, lalu merembet ke kanal-kanal Venesia yang dipenuhi mayat, Sardinia, Kroasia, Napoli, Roma, sampai neraka itu sendiri. Ada juga level kebun binatang zombie, karena kenapa nggak? Selain itu, zombie di sini mulai “pintar” dan bisa pegang senjata api, walaupun akurasinya masih jauh dari kata jago.

Akan tetapi, mari kita jujur. Cerita Zombie Army 4 itu tipe yang bakal lo lupain seminggu setelah tamat. Nggak ada twist yang bikin nangis, apalagi pengembangan karakter yang dalam. Rasanya mirip main shooter era 90-an kayak Doom, di mana yang lo pedulikan cuma satu hal: meledakkan musuh sebanyak mungkin.

Sebagian orang mungkin menganggap ini kelemahan. Buat gue? No cap, ini justru fitur. Game ini sadar dirinya adalah B-movie, dan dia nyaman banget dengan identitas itu.

Gunplay-nya Bikin Gue Literally Shaking

Karena dibangun di atas fondasi Sniper Elite 4, rasa nembaknya solid banget. Bedanya, Rebellion membuat semuanya jauh lebih arcade. Recoil terasa pas, suara senjatanya galak, dan setiap tembakan punya bobot.

Tentu saja, bintang utamanya tetap X-ray kill cam. Tahan napas, waktu melambat, lalu kamera mengikuti peluru sampai tulang zombie retak dan otaknya pecah berantakan. Kini, kill cam ini bahkan ikut muncul saat lo membunuh pakai jebakan dan bahan peledak. Mau dilihat berkali-kali pun, momen ini nggak pernah basi.

Meski begitu, jangan salah paham. Game ini bukan simulator sniper murni. Sebagian besar waktu lo bakal habis di pertarungan jarak dekat, sehingga elemen stealth dan verticality-nya berkurang dibanding Sniper Elite. Sebagai gantinya, lo dapat senjata utama, senjata sekunder, pistol, berbagai jenis granat, ranjau darat, sampai trip mine.

Di bagian bawah layar, ada beberapa kemampuan yang bisa di-recharge. Pertama, serangan melee standar. Kedua, takedown sadis yang terbuka setelah combo kill dan sekaligus mengembalikan sebagian darah. Ketiga, kemampuan spesial yang sering jadi penyelamat nyawa di detik-detik genting.

Belum lagi jebakan di lingkungan sekitar. Tembak target kecil pada sebuah perangkap, lalu lo bisa memancing gerombolan zombie ke umpan yang meledak atau menjatuhkan benda berat ke kepala mereka. Ditambah tong peledak yang bertebaran di mana-mana, game ini sama sekali nggak malu buat jadi konyol. And honestly? I love that for it.

Variasi Musuh yang Bisa Merusak Vibe dalam Sekejap

Salah satu hal yang menjaga tempo game ini tetap asyik adalah desain musuhnya. Di satu area, lo bisa santai sniping dari belakang. Namun, begitu masuk area berikutnya, tiba-tiba muncul zombie bunuh diri, machine gunner elite, dan si brengsek pembawa gergaji mesin. Dijamin langsung ada teriakan panik berjamaah di voice chat.

Selain itu, ada zombie sniper yang lompat dari satu gedung ke gedung lain kayak lagi parkour, zombie berlapis armor, serta pendatang baru seperti zombie penyembur api. Di sisi lain, bos-bos undead-nya didesain dengan kreatif, sampai-sampai lo bakal terus main cuma karena penasaran monster apa lagi yang disiapkan Rebellion. Bahkan kendaraan perang Jerman yang sudah hancur pun bangkit lagi sebagai mesin neraka.

Oh, dan ada satu detail kecil yang memuaskan: setelah zombie mati, lo bisa menginjak bangkainya untuk mendapatkan resource. Petty? Iya. Nagih? Banget.

Tempo levelnya juga dijaga dengan baik. Kadang lo menyusuri Venesia lewat jalur air, kadang bertahan di satu titik sambil memasang jebakan dan naik turret, kadang menyelinap lewat hutan. Memang, levelnya tetap linear dan beberapa aset jelas daur ulang dari Sniper Elite 4. Walaupun begitu, dibanding Zombie Army Trilogy, area di sini lebih luas dan isinya lebih padat.

Progression Nerd, This One’s for You

Kalau lo tipe yang down bad sama angka naik dan unlock baru, Zombie Army 4 bakal bikin lo senyum. Sistem loadout-nya jauh lebih dalam dibanding pendahulunya, dengan level akun yang tembus 100-an, upgrade point, skill, special attack, kosmetik, sampai emote.

Upgrade senjata jadi highlight utama. Senjata utama, sekunder, dan pistol semuanya bisa dimodifikasi, bahkan diberi efek khusus seperti ledakan atau aliran listrik yang bikin gerombolan zombie kesetrum. Karena efeknya seenak itu, lo bakal sering gonta-ganti senjata cuma untuk memicu efek spesial masing-masing.

Pro tip dari gue: cek menu weapon mastery sejak awal. Jangan sampai lo baru sadar fitur ini ada ketika campaign sudah mau tamat.

Karakter yang lo pilih juga bukan sekadar kosmetik, karena masing-masing punya stat berbeda. Ditambah campaign challenge dan collectible di setiap level, hampir semua aksi lo terasa punya arti.

Meskipun demikian, sistemnya belum sampai level RPG hardcore. Buat progression nerd sejati, masih ada rasa pengen lebih. Oleh karena itu, dengan cerita yang tipis dan progresi yang cuma “lumayan dalam”, shooting-nya lah yang harus memikul seluruh game. Untungnya, pundak si shooting ini kuat banget.

Co-op Adalah Jiwa Game Ini

Inilah alasan Zombie Army 4 masih sering nongol di daftar game co-op terbaik sampai sekarang. Campaign-nya bisa dimainkan 1–4 pemain dengan sistem drop-in, drop-out dari awal hingga akhir. Collectible dipungut bareng, lo bisa saling bantu, dan semuanya terasa mulus.

Menariknya, co-op di sini nggak menuntut koordinasi ala game taktis. Semua orang cuma sibuk membantai gerombolan zombie tanpa henti, sehingga game ini jadi “game Discord” yang sempurna: tangan sibuk nembak, mulut sibuk ngobrol ngalor-ngidul. Bahkan jumlah musuh bisa diatur setara untuk satu pemain walaupun lo main berempat, kalau tujuannya cuma santai.

Sebaliknya, di tingkat kesulitan yang lebih tinggi, friendly fire mulai aktif. Hasilnya, permainan jadi lebih hati-hati, lebih kompak, dan jujur saja lebih lucu, apalagi kalau teman lo nggak sengaja kena jebakan yang lo aktifkan sendiri.

Lalu, bagaimana kalau main sendirian? Nah, di sinilah masalahnya. Mode solo tetap bisa dinikmati, tapi rasanya sepi dan agak hampa. Tanpa teman yang jaga punggung, pengalaman ini kehilangan separuh keseruannya. Jadi, kalau lo punya satu sampai tiga teman yang doyan nembak zombie, langsung ajak mereka.

Horde Mode dan Weekly Challenge, Sumber Replayability

Setelah campaign tamat, Horde Mode siap menyedot jam main lo. Konsepnya klasik, yaitu bertahan dari gelombang zombie yang makin lama makin brutal. Namun, twist-nya ada di peta yang terus terbuka seiring lo bertahan lebih lama. Akibatnya, lo dipaksa pindah posisi, mengubah strategi, dan waspada terhadap serangan dari sisi yang tadinya aman.

Mode ini jelas bukan tempelan. Ada achievement yang bisa dikejar, dan combo multiplier bisa memicu persaingan skor kecil-kecilan antar teman satu tim. Selain itu, weekly challenge menghadirkan aturan dan modifikasi baru pada level yang sudah pernah lo tamatkan.

Soal populasi pemain, game ini nggak bisa dibilang dead, meski juga nggak ramai banget. Lobi campaign dan Horde biasanya masih bisa ditemukan, sedangkan lobi weekly challenge cenderung lebih sepi. Untuk game co-op rilisan 2020, kondisi itu masih tergolong sehat.

DLC dan Monetisasi, Nggak Seseram Kelihatannya

Oke, waktunya membahas bagian yang bikin dompet deg-degan. Harus diakui, Zombie Army 4 lebih banyak dimonetisasi dibanding pendahulunya. Ada toko yang cukup mencolok di menu utama, dan di layar upgrade senjata selalu ada senjata yang bisa dibeli pakai uang asli. Untungnya, semua itu nggak terlalu mengganggu permainan.

Campaign dasarnya berisi sembilan chapter. Namun, setiap season pass membawa tiga misi campaign tambahan, sehingga jumlah misinya bisa jadi dua kali lipat kalau lo punya ketiganya.

Tips hemat dari gue: kalau lo nggak peduli kosmetik tambahan, membeli misi DLC satuan sering kali lebih murah daripada season pass penuh. Pilih yang memang lo mau, jangan kalap.

Kabar baiknya, base game-nya rutin kena diskon besar di berbagai store. Dengan modal relatif kecil, lo bisa mendapatkan puluhan jam gameplay kalau serius mengejar campaign, DLC, dan Horde Mode. Skin-skinnya juga bikin down bad, mulai dari ninja bercamo es sampai sosok setengah iblis yang serem. Worth it? Honestly, iya.

Kekurangan yang Nggak Bisa Gue Tutup-tutupi

Sebagai fan yang bucin, gue tetap harus objektif. Pertama, objektif misinya repetitif. Cari sekering untuk generator, aktifkan jembatan angkat, lalu tahan gelombang zombie. Ulangi terus. Lama-kelamaan, pola ini terasa kayak busy work.

Kedua, rasa gerakan karakter kadang aneh. Pergerakannya bisa terasa terlalu cepat atau terlalu lambat, dan bahkan setelah sensitivitas diutak-atik, titik nyamannya susah ketemu. Akibatnya, lo bisa nabrak objek yang dikira bisa dilewati atau malah muter kebablasan saat membidik musuh.

Ketiga, masalah server. Ada kalanya game ini sama sekali nggak bisa dimainkan online karena gangguan, dan itu menyebalkan kalau jadwal mabar sudah disiapkan. Keempat, beberapa misi DLC tanpa safe room terasa kepanjangan, ditambah ada DLC yang isinya kurang memenuhi ekspektasi.

Terakhir, ya itu tadi: cerita yang nyaris nggak ada dan gameplay yang oleh sebagian orang disebut “mindless”. Tapi come on, ini game nembakin zombie Nazi. Kalau lo mencari drama emosional yang bikin mewek, lo salah alamat.

Verdict: Zombie Army 4 Masih My Beloved

Dari sisi penerimaan, game ini meraih skor Metacritic 74 di PC, 72 di PS4, 77 di Xbox One, dan 80 di Switch. Angka yang wajar untuk game yang tahu persis mau jadi apa. Dibanding Zombie Army Trilogy, atmosfer dan vibe klasiknya memang masih kalah. Namun, dari sisi gameplay dan jumlah konten, Zombie Army 4 unggul jauh.

Sampai sekarang, belum ada kabar resmi soal Zombie Army 5. Rebellion memang sempat mengumumkan spin-off Zombie Army VR, tapi buat penggemar co-op klasik, Dead War tetap jadi pilihan utama. Satu harapan gue untuk seri berikutnya: tolong hadirkan dukungan Steam Workshop, supaya replayability-nya nggak ada habisnya seperti Left 4 Dead.

Jadi, apakah review Zombie Army 4 dari NgabQuest merekomendasikan game ini di 2026? Kalau lo punya geng mabar dan nemu game ini lagi diskon, sikat tanpa ragu. It’s giving underrated classic, dan seri ini pantas dapat respek lebih banyak.

Baca juga