By Genre

Tears of the Kingdom: Evolusi Berani Dunia Hyrule

Oleh 5 menit baca

ngabquest —  The Legend of Zelda: Tears of the Kingdom bukan sekadar sekuel biasa. Game ini benar-benar mengubah cara pemain memandang dunia Hyrule yang selama ini mereka kenal. Pertama kali melompat dari Great Sky Island, banyak pemain langsung sadar satu hal penting. Nintendo EPD tidak lagi membatasi ruang gerak pemain dengan garis invisible seperti kebanyakan game open-world lainnya. Sensasi kebebasan inilah yang membuat game ini terus dibicarakan bertahun-tahun setelah rilis pertamanya di Mei 2023.

Artikel ini tidak akan sekadar membahas skor atau fitur secara teknis. Sebaliknya, pembahasan berikut akan mengupas kenapa game ini layak disebut salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah action-adventure modern. Mulai dari langit yang penuh misteri, hingga kedalaman Depths yang gelap dan mencekam, setiap sudut Hyrule versi baru ini dirancang dengan detail luar biasa.

ngabquest ~  The Legend of Zelda: Tears of the Kingdom Review

Sekuel yang Berani Merombak Formula Sendiri

Tears of the Kingdom merupakan sekuel langsung dari Breath of the Wild. Game ini kembali disutradarai oleh Hidemaro Fujibayashi, dengan Eiji Aonuma sebagai produser. Keduanya memahami betul risiko besar membuat sekuel dari game yang sudah sangat dipuja secara global.

Alih-alih bermain aman, tim developer justru menambahkan dua zona baru sekaligus. Langit hadir dengan pulau-pulau melayang penuh teka-teki. Sementara itu, Depths menawarkan area bawah tanah luas yang gelap dan menegangkan. Menariknya, konsep ini awalnya hanya dianggap sebagai bahan konten tambahan untuk Breath of the Wild. Namun, jumlah ide yang terkumpul ternyata terlalu banyak untuk sekadar DLC. Akhirnya, tim developer memutuskan membuat game baru sepenuhnya.

Selama proses pengembangan, tim bahkan mengaku mengalami déjà vu akibat kemiripan visual dengan Breath of the Wild. Meski begitu, perubahan besar justru terjadi pada mekanik inti permainan.

Ultrahand dan Fuse: Kebebasan Berkreasi Tanpa Batas

Jika Breath of the Wild mengajarkan pemain untuk “mencoba segala hal”, Tears of the Kingdom membawa konsep tersebut ke level berikutnya. Lima kekuatan baru menggantikan Sheikah Slate: Ultrahand, Fuse, Ascend, Recall, dan Autobuild. Ultrahand memungkinkan pemain menggabungkan berbagai objek menjadi satu kesatuan. Hasilnya bisa berupa kendaraan, jembatan, hingga alat tempur yang terkadang bekerja jauh lebih baik dari rencana awal.

Selain itu, kemampuan Fuse membuka peluang kombinasi yang tidak terduga. Pemain bisa menempelkan senjata atau bahan tertentu ke perisai maupun busur. Sebagai contoh, memasang roket pada perisai memungkinkan Link terbang melintasi udara. Beberapa reviewer bahkan menyebut kekuatan-kekuatan ini terasa seperti cheat code resmi. Ascend, misalnya, berfungsi layaknya noclip mode versi legal. Sementara itu, Recall memberikan sensasi memanipulasi waktu secara langsung.

Kekuatan-kekuatan tersebut juga tidak berdiri sendiri dari sisi naratif. Terdapat tema besar mengenai “tangan” yang terhubung erat dengan gameplay, visual, dan cerita utama. Detail seperti ini menunjukkan keseriusan tim developer dalam merancang setiap elemen game secara menyeluruh.

Langit versus Depths: Dua Dunia dengan Daya Tarik Berbeda

Perdebatan mengenai area mana yang lebih menarik, langit atau Depths, masih terus berlangsung hingga kini. Area langit cenderung menawarkan puzzle-solving yang lebih santai. Pemandangannya pun mengingatkan pada nuansa Skyward Sword dan Wind Waker. Di sisi lain, Depths hadir dengan atmosfer gelap total. Pemain membutuhkan item khusus untuk menerangi jalan di tengah bahaya gloom, zat berbahaya yang dapat mengurangi jumlah heart maksimum Link untuk sementara waktu.

Efek gloom ini hanya bisa dihilangkan dengan kembali ke permukaan. Oleh karena itu, struktur gameplay loop-nya terasa sangat cerdas. Pemain dipaksa bolak-balik antara eksplorasi bawah tanah dan pemulihan di permukaan. Selain itu, empat dungeon utama, yaitu Water, Wind, Fire, dan Lightning Temple, bisa diselesaikan dengan urutan bebas sesuai preferensi masing-masing pemain.

Narasi yang Lebih Berani dan Emosional

Salah satu kejutan terbesar dari Tears of the Kingdom terletak pada kedalaman ceritanya. Terdapat kisah latar belakang mengenai Rauru dan Sonia sebagai raja serta ratu pertama Hyrule. Selain itu, ada pengkhianatan Ganondorf yang berujung pada proses “draconification” Zelda demi menyelamatkan Master Sword yang patah. Cerita ini disampaikan melalui item bernama Dragon’s Tears yang tersebar di seluruh peta, bukan melalui cutscene linear seperti biasanya.

Banyak kritikus menilai narasi ini sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah franchise Zelda. Meski demikian, sebagian pemain merasa dialog karakter pendukung terasa sedikit berlebihan. Hal ini dianggap wajar mengingat sifat open-world yang memberikan banyak ruang eksplorasi bebas.

Catatan Jujur soal Performa

Di balik segala pencapaiannya, performa game ini di Nintendo Switch generasi awal memang belum sempurna. Frame rate sesekali mengalami penurunan, terutama saat banyak objek fisika berinteraksi secara bersamaan. Untungnya, versi Nintendo Switch 2 yang dirilis pada Juni 2025 hadir untuk mengatasi masalah tersebut. Resolusi menjadi lebih tajam, frame rate lebih stabil, dan dukungan HDR turut meningkatkan kualitas visual secara keseluruhan.

Meski begitu, sebagian besar reviewer sepakat bahwa masalah performa ini hanya kekurangan kecil. Secara keseluruhan, game ini tetap meraih skor nyaris sempurna dari berbagai media, sekaligus dinobatkan sebagai Game of the Year di banyak ajang penghargaan bergengsi. Angka penjualannya pun mengesankan, dengan lebih dari 10 juta kopi terjual hanya dalam tiga hari pertama peluncuran.

Warisan yang Masih Terasa hingga Kini

Tears of the Kingdom tidak sekadar menambahkan peta baru di atas dan bawah Hyrule lama. Game ini berani merombak filosofi desain intinya sendiri. Konsep “menjelajahi dunia” kini berkembang menjadi “menjelajahi dunia sambil menciptakan versi sendiri”. Inspirasi ini bahkan datang langsung dari kreativitas para pemain Breath of the Wild yang sering membagikan hasil karya mereka di media sosial.

Dengan segala pencapaian tersebut, tidak berlebihan jika Tears of the Kingdom disebut sebagai standar baru bagi game open-world modern. Bagi pemain lama maupun baru, game ini tetap relevan untuk dimainkan hingga saat ini.

Baca juga